Start Back Next End
  
44
tersebut. Lingkungan alam Jakarta yang sudah mulai rusak telah
terjadi di sana-sini. Mulai dari banyaknya pembangunan gedung-
gedung bertingkat dengan tidak memperhatikan tata letak dan
resapan. Selain itu, kebiasaan masyarakat yang sering membuang
sampah bukan pada tempatnya. Terutama bagi mereka yang tinggal
di kawasan bantaran sungai maka dengan sangat mudahnya
membuang sampah ke sungai. Hal itu tentu saja akan menyebabkan
penyumbatan di sungai. Maka bukan hal aneh lagi jika Jakarta
dengan mudahnya diserang banjir.”
Selain itu,
Sunarto dalam artikelnya dengan judul “Merajut Asa di Tengah
Porandia” pada majalah National Geographic
edisi oktober 2012, mengatakan
bahwa
“Kurun dua puluh lima tahun terakhir disatu sisi bisa dilihat sebagai
era kebangkitan ekonomi di Indonesia, khususnya Riau. Namun,
pembangunan ekonomi yang dilakukan telah banyak mengorbankan
sisi lain, yakni lingkungan dan khususnya kelestarian hutan, yang
sesungguhnya sangat diperlukan sebagai penggerak ekonomi dan
penyangga kehidupan itu sendiri.
Kerusakan hutan di Riau telah mengakibatkan beragam bencana.
Masyarakat asli seperti Suku Anak dalam, Sakai, dan Talang
Mamak adalah pihak yang acap kali dirugikan akibat hutan yang
rusak. Kehidupan suku asli yang sangat dekat dengan kondisi hutan
yang alami menjadi tercerabut.
Kebakaran lahan yang menyertai
proses konversi hutan secara serampangan juga telah menimbulkan
bencana asap yang kronis, merugikan ekonomi dan kesehatan tidak
hanya masyarakat setempat serta provinsi-provinsi sekitar, namun
juga mereka yang berada di negara tetangga. Kerusakan hutan juga
telah memicu kondisi ekstrem yang semakin sering terjadi, seperti
bencana banjir di musim hujan, dan kekeringan di musim kemarau. 
Situasi hutan Riau kini memang kritis. Namun dengan tekad kuat
dan langkah-langkah nyata, asa masih dapat dirajut. Sebelum
kehancuran yang lebih parah terjadi, inilah saatnya untuk
menentukan haluan baru
bagi perahu Lancang Kuning: pemulihan
bentang alam dan ekosistem untuk memastikan kestabilan sistem
penyangga kehidupan di Riau pada khususnya dan Sumatera pada
umumnya. Tanpa memperkuat pilar-pilar penyangga sistem
kehidupan yang ada, tentunya akan sulit membayangkan ekonomi
dan kehidupan di wilayah Riau dapat hidup dan tumbuh secara seha
dan berkelanjutan.
Bentang alam
Riau dapat dikelola sebagai saujana yang dinamis
namun seimbang, terawat, serta bermanfaat bagi kehidupan kita.
Keseimbangan ekosistem tersebut dapat diwujudkan dengan
merawat saujana multi-guna yang antara lain terdiri atas blok-blok
dan jaringan kawasan lindung, yang satu dengan
lainnya
dihubungkan dengan beragam penghubung berupa koridor, matriks
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter