|
movement (gerak dan lagu) atau dengan memainkan alat
musik tertentu. Bisa juga dengan melakukan kegiatan drama.
2.1.1.9 Kriteria Buku-Anak yang Baik versi Orangtua.
Untuk menentukan kriteria buku-anak yang baik, paling mudah
adalah dengan membuat daftar keluhan. Buku anak yang baik,
menurut orangtua, adalah yang lolos saringan empat kriteria di
bawah ini. Kriteria ini disusun subjektif berdasarkan
pengalaman moderator Forum Penulis Bacaan Anak (FPBA)
sebagai penikmat buku anak dan ibu dari tiga putra yang
semuanya suka buku, ditambah masukan dari teman-teman
FPBA.
Karena subjektif, bisa saja ada pendapat dan
pertimbangan yang berbeda.
1.Fisik
a.Jenis kertas dan penjilidan
Untuk mengejar harga murah sering penerbit menggunakan
kertas berkualitas rendah (tipis dan mudah robek). Padahal
anak-anak adalah pembaca yang bersemangat, membuka
halaman dengan sekuat tenaga, berebut buku dengan saudara,
membawanya tidur bersama, bahkan secara harfiah memakan
buku. Buku anak tipis umumnya distaples, sementara yang
tebal dilem atau dijahit. Sering bahkan tanpa perlakuan "kasar"
anak pun, jilidan mudah terlepas karena lem tidak kuat atau
kertas robek pada jahitannya. Buku anak seharusnya dirancang
tahan banting, tahan ludah, tahan- dibaca- setidaknya-
puluhan-kali.
b.Target pembaca
Pencantuman target pembaca di cover belakang sudah
dilakukan beberapa penerbit pada beberapa jenis buku. Tapi
masih banyak buku yang tidak berlabel. Ditambah kemasan
plastik segel, semakin sulitlah orangtua memilihkan buku bagi
anak dengan usia berbeda-beda apalagi membebaskan anak
memilih sendiri. Idealnya, untuk mengembangkan keterampilan
membuat keputusan, anak-anak dibiarkan memilih sendiri buku
dan menghadapi konsekuensinya. Di luar negeri, anak memilih
buku sendiri, sudah biasa. Tapi di Indonesia, hal ini belum
membudaya. Urusan belanja masih jadi wewenang sepenuhnya
kebanyakan orangtua. Dari sisi penerbit, keadaan ini
menyebabkan buku anak dibuat semenarik mungkin dari sudut
pandang orangtua juga. Bagi orangtua yang sudah memberikan
hak memilih kepada anak, tidak adanya label usia pada buku ini
justru membuat frustrasi. Banjir buku di toko buku yang tidak
semuanya aman bagi anak membuat mereka lagi-lagi harus
"merecoki" pilihan anak. Menurut penulis, kalau penerbit dan
|