Start Back Next End
  
sedikit berarti miskin, menggunakan kosa kata itu-itu saja,
maka buku tidak mendukung perkembangan bahasa anak. Anak
yang terbiasa mendapatkan bacaan yang kurang
mengembangkan kosa katanya akan tumbuh menjadi orang
yang "gentar" berbicara, minder menghadapi lawan bicara yang
seolah "menelan kamus". Dan bacaan yang kurang menantang
juga bisa meredupkan kegairahan membaca.
b.Bahasa buku
Bahasa buku sebetulnya identik dengan bahasa baku. Bahasa
baku mengajarkan logika bahasa dan mengasah rasa
kebahasaan pembaca.Tetapi sejalan waktu, muncullah bahasa
gaul, dan mendadak bahasa baku disamakan dengan bahasa
kaku. Padahal bahasa baku seharusnya tidak kaku. Yang kaku
dan tidak enak dibaca adalah bahasa yang tidak efektif,
berbelit-belit, bahkan salah diksi. Sayangnya salah kaprah ini
tidak disadari, dan banyak buku menggunakan bahasa gaul
bahkan untuk narasi. Bahasa gaul seharusnya hanya boleh ada
dalam dialog (kutipan). Maraknya penggunaan bahasa gaul
yang tidak pada tempatnya membuat anak-anak dan remaja kita
tak bisa lagi berbahasa dengan baik dalam situasi formal.
c.Pertimbangan normatif
-
Mengandung makian, kata-kata kasar atau tidak pantas.
d.Logika bahasa
-
Kalimat yang tidak mengikuti kaidah kebahasaan atau logika,
bisa menimbulkan kerancuan makna. Bahkan anak-anak kecil
bisa merasakan kalimat yang aneh bunyinya, atau sulit
dipahami karena tidak lengkap.
Contoh:
Sebenarnya Tito takut, tapi Tito kan anak pemberani, tidak
takut apa pun.
Anak saya bingung menemukan kalimat itu. "Mana yang
benar?" tanyanya. Tito takut atau tidak takut apa pun?
Mungkin kalau diedit sedikit, kalimatnya akan lebih mudah
dipahami. Misalnya:
Tito merasa takut, tapi dia memberanikan diri.
2.1.1.10  Kriteria dalam memilih buku bergambar
1. Apakah gambar mendukung teks
2. Apakah gambar jelas dan mudah dibedakan
3. Apakah ilustrasi memperjelas latar, rangkaian cerita,
penjiwaan dan karakter
4. Apakah anak mampu mengidentifikasi karakter dan
tindakan, 
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter