|
5
2.1.2 Sejarah sintren
Sumber dari Cirebon menyatakan bahwa asal mula lahirnya sintren adalah
kebiasaan kaum ibu dan putra-putrinya yang tengah menunggu suami atau
ayahnya mereka pulang dari mencari ikan di laut. Ungkapan seperti ini merupakan
kesimpulan Ambiah, ketika kanak-kanak mendengar ucapan kakeknya
ketimbang turu sore-sore, mbari ngenteni wong luru iwak teka, mending gawe
dolanan sing bagus, ambir wong pada seneng. (Dari pada tidur sore-sore, sambil
menunggu kaum nelayan datang dari menangkap ikan, lebuh baik membuat
permainan yang menarik). Permainan yang dimaksud adalah sintren, dan itu
dilakukan setiap sore secara terus menerus, sehingga hampir menjadi bagian yang
tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Lama-kelamaan sintren berubah menjadi
sebuah permainan dalam menunggu para nelayan pulang. Hingga kini sintren
menjadi sebuah warisan budaya yang luhur yang perlu dilestarikan.
Pada masa lampau meminta petunjuk untuk mengatasi kondisi alam selalu
mempergunakan kekuatan supranatural. Kaitannya memanggil roh melalui sintren
karena kesulitan yang dialami masyarakat tidak bisa dipecahkan melalui
logikanya. Misalnya pada saat itu para nelayan mengalami kesulitan untuk melaut,
maka diselenggarakan pertunjukan sintren untuk memberikan petunjuk.
Pada perkembangan selanjutnya, sintren dipentaskan oleh para nelayan berkeliling
kampung atau ngamen untuk mengadakan pertunjukan.
Dalam pertunjukan tersebut, mereka menyelenggarakan pementasan di
tempat keramaian. Pada tempat tersebut, mereka tidak mengajukan persyaratan
dengan ketentuan tempat harus suci, yang penting bersih dan ada ruang untuk
pentas. Dari hasil pentas keliling tersebut mereka mendapatkan uang saweran
yang cukup lumayan. Dari semula hanya untuk menambah uang dapur, sintren
kemudian dijadikan obyek untuk mencari nafkah hidup.
|