|
Selain kelelahan berat, Bapak tertekan batinnya karena peristiwa itu, ujar Muhammad
Teguh Bambang Tjahjadi, putra bungsu Soedirman, yang mendapat cerita dari ibunya.Teguh
waktu itu belum lahir.Ia lahir pada pengunjung 1949.
Malam itu, kendati kondisi kesehatanya turun, Soedirman tetap mandi dengan air dingin.
Saran sang istri agar ia mandi air hangat tak diindahkan. Menurut Teguh, inilah awal petaka bagi
ayahnya. Esoknya, Bapak terkapar di tempat tidur, katanya.
Ketika hari ulang tahun tentara tiba, 5 Oktober 1948, Soedirman, yang masih sakit,
mengunjungi Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogya. Di sana ia melakukan tabur bunga ke
pusara anggota tentara korban pemberontakan PKI Madiun. Sepulang dari tabur bunga,
kesehatanya memburuk.
Kendati ia sakit, kegemarannya merokok tetap tak bisa dihilangkan. Sesekali, sembari
terbaring, dia mengisap rokok kretek.Istrinya tak berani melarang. Bapak memang perokok
berat, ujar Teguh. Karena Soedirman tak kunjung pulih, menurut Soekanto S.A. dalam
bukunya, Perjalanan Bersahaja Jenderal Sudirman, diutus sejumlah dokter tentara memeriksa
kesehatannya. Tim dokter muda itu mendiagnosis ia menderita tuberkulosis, infeksi paru-paru.
Keluarga Soedirman meminta dua dokter tentara senior, Asikin Widjajakoesoemah dan
Sim Ki Ay, melakukan pemeriksaan ulang.Keluarga tak percaya karena Soedirman tak punya
riwayat penyakit itu. Tapi hasil pemeriksaan dua dokter tersebut tak jauh beda dengan
pendahulunya. Atas saran Asikin, Soedirman dibawa ke Rumah Sakit Panti Rapih, Yogya.
Soegiri, bekas ajudan Soedirman, menulis bagaimana saat Sang Jenderal dirawat di
rumah sakit Katolik itu.Soedirman, tulis Soegiri (tulisannya ada dalam jurnal yang tersimpan di
Museum Sasmitaloka), dirawat di kamar 8 Bangsal Maria, yang terdapat di bagian depan.
|