Start Back Next End
  
Soedirman, menurut Soegiri, terkena pulmonary tuberculosis.Penyakit itu diketahui
Soegiri dari dokter yang merawat Soedirman. Menurut Soegiri, obat yang dibutuhkan Soedirman
hanya ada di Jakarta. Kalaupun sampai ke Yogya, kata dia, obat itu harus melalui jalur
penyelundupan.Jakarta, kala itu, diduduki tentara sekutu.
Karena Soedirman butuh penanganan cepat, tim dokter memutuskan melakukan operasi
untuk menyelamatkannya dengan cara membuat satu paru-parunya tak berfungsi.
Komplikasinya, kata Soegiri, memang sudah sedemikian rupa, sehingga membuat dokter
menempuh cara tersebut.
Pascaoperasi, menurut Soegiri, tim dokter berbohong kepada Soedirman. Mereka
mengatakan operasi itu cuma mengangkat satu organ kecil di paru-paru yang menghambat
saluran pernapasan.Adapun, menurut Teguh, ibunya diberi tahu dokter perihal operasi itu. “Sejak
itu, Bapak bernapas dengan separuh paru-paru,”katanya.
Setelah operasi, Soedirman diminta beristirahat lebih lama.Ia juga dilarang keras
merokok. Menurut Soegiri, ketika hari jadi ke-25 rumah sakit itu, Soedirman khusus menulis
sajak kado ulang tahun. Sajak lima alinea itu berjudul “25 Tahun Rumah Nan Bahagia”. Isinya,
ucapan terima kasih Soedirman karena mendapat perawatan yang baik selama di sana. Tulisan
asli sajak itu kini diletakan di bawah monumen Jenderal Soedirman di area Panti
Rapih.Monumen itu tak jauh dari kamar Soedirman dirawat.
Sebulan melakuakn pemulihan di rumah sakit, Soedirman pulang kerumahnya di
Bintaran.Ketika di rumah, kata Teguh, Soedirman pernah beberapa kali tak bisa menahan hasrat
ingin merokok. Perilaku ini, lagi-lagi, justru memperburuk kesehatanya.”Bapak pernah muntah
darah,” ujar Teguh.
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter