Start Back Next End
  
Pada 17 Desember 1948, keajaiban datang. Soedirman tiba-tiba bisa bangkit dari tempat
tidur.Sebelumnya, sepulang dari Pantih Rapih, ia selalu berbaring di ranjang. Hari itu, kepada
istrinya, Soedirman berkata memiliki firasat Belanda akan melakukan agresi. Dua hari berselang,
firasat Sang Jenderal terbukti: Belanda membombardir Yogya, yang saat itu ibu kota Indonesia.
Ia pun memilih mengakhiri cutinya.
Dengan diusung tandu, hampir delapan bulan, Soedirman keluar masuk- hutan memimpin
gerilya dari luar Yogya. Pernah suatu ketika ia tidak makan selama lima hari. Dengan perut
kosong, Soedirman menembus medan yang diguyur hujan lebat. Sesampai di Pacitan, Jawa
Timur, ia sakit. Anak buahnya terpaksa mendatangkan dokter dari Solo.
Lantaran kesehatannya di medan gerilya memburuk, ditandu anak buahnya, pada 10 juli
1949, Soedirman dibawa masuk Yogya. Dia langsung diboyong ke Panti Rapih.Kala itu Yogya
sudah dalam kekuasaan Belanda.
Rika, suster yang merawat Soedirman, kala itu menulis pengalamannya saat bersama
jenderal besar ini. Menurut dia, saat itu Soedirman dirawat dengan nama samaran: Abdullah
Lelana Putra. Pengakuan Rika pada 1985 itu dimuat sebuah surat kabar yang naskahnya kini
tersimpan juga di Museum Sasmitaloka. Soedirman memakai nama samaran supaya
keberadaannya tak diketahui Belanda.
Di Panti Rapih, Soedirman masih memimpin rapat kabinet bersama Presiden Sukarno
membahas upaya mempertahankan kemerdekaan. Hanya dua pekan ia dirawat di sana. Setelah
itu, Soedirman kembali ke rumah.
Setelah Belanda bersedia melakukan gencatan senjata pada Oktober 1949, memintanya
kembali ke Panti Rapih. Tapi ia memilih beristirahat di wisma tentara di Badakan, Magelang.
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter