Start Back Next End
  
Tapi tetirah sejuk dengan pemandangan Gunung Sumbing itu tak bisa membuat
kesehatan Soedirman membaik. Tiga bulan disana, ia kerap muntah darah. Juga di tempat
tidur.Dokter Husein dari Rumah Sakit Magelang bolak-balik memeriksa dan menungguinya.
“Saat itu, Bapak tinggal tulang dan kulit saja,” kata Teguh.
Seolah-olah mendapat firasat hari kematiannya segera tiba, pada 18 Januari 1950,
Soedirman meminta sejumlah petinggi tentara menemuinya di Badakan. Esok harinya, ia
memanggil istri dan tujuh anaknya. Seperti kepada para petinggi tentara, ia juga memberi
wejangan kepada istri dan anak-anaknya.
Tak sepenuhnya pertemuan dengan keluarganya diisi wejangan, Soedirman juga sempat
bergurau. Kepada keluarganya, misalnya, ia menyatakan sebenarnya ingin seperti Lurah Pakis,
kenalannya, yang hidup sampai tua dan bisa menimang cucu.
Pada Senin, 29 Januari 1950, Soedirman kembali di kelilingi istri dan anak-anaknya.
Kondisi tubuhnya makin lemah.Berlinang air mata, Siti Alfiah meminta suaminya
tegar.Soedirman menatap istrinya dan meminta perempuan yang dikasihinya tersebut
menuntunnya membaca kalimat tauhid. “Satu kalimat terucap, Bapak kemudian mangkat,” kata
Teguh.
Soedirman pergi dalam usia muda, 34 tahun. Esok harinya, ribuan orang ikut
mengantarkan jenazahnya ke Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.Hari itu hujan turun
lebat mengguyur Kota Yogya.Tembakan salvo satu regu tentara di pemakaman Semaki
mengantar jenderal besar itu ke tempat peristirahatan terakhirnya.
(Soedirman Seorang Panglima, Seorang Martir (Tempo, 2012) )
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter