Start Back Next End
  
28
Kedatangan bangsa Tionghoa di selatan Kalimantan tidak
mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki
pengaruh langsung karena mereka hanya berdagang, terutama
dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung
berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa
masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring
malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik.
Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan.
Pada abad XV Kaisar Yongle mengirim sebuah angkatan perang
besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Cheng
Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407.
2.2.3.2 Agama dan Sistem Kepercayaan
Menganut agama leluhur yang diberi nama oleh Tjilik Riwut
sebagai agama Kaharingan yang memiliki ciri khas adanya
pembakaran tulang dalam ritual penguburan. Sedangkan agama
asli rumpun Dayak Banuaka tidak mengenal adanya pembakaran
tulang jenazah. Bahkan agama
leluhur masyarakat Dayak
Meratus di Kalimantan Selatan lebih menekankan ritual dalam
kehidupan terutama upacara/ritual pertanian maupun pesta panen
yang sering dinamakan sebagai agama Balian. Agama-agama asli
suku-suku Dayak sekarang ini kian lama kian ditinggalkan. Sejak
abad pertama Masehi, agama Hindu mulai memasuki 
2.2.3.3 Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk adalah berladang berpindah, petani
karet, buruh serabutan. Hanya sebagian kecil yang berprofesi
sebagai pegawai pemerintah dan pedagang, apalagi pejabat
pemerintah. 
Alasan utama  mata pencaharian penduduk demikian adalah
kurangnya akses ilmu pengetahuan dan teknologi serta minimnya
sarana pendidikan disana.
Berladang dalam suku Dayak
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter