|
32
Menurut Azhari & Andarin (2011), Angklung
adalah alat
musik
yang mudah dimainkan oleh semua orang termasuk yang tidak
mengenal seni musik. Hanya dengan membunyikan Angklung
secara
bergantian sesuai dengan notasi, sebuah lagu dapat diperdengarkan
dengan baik. Namun untuk menyempurnakan kemampuan bermain
Angklung
agar terdengar lebih menarik dan bernilai seni tinggi ada
teknik-teknik permainan yang harus dikuasai.
Angklung
adalah alat musik terbuat dari dua tabung bambu
yang ditancapkan pada sebuah bingkai yang juga terbuat dari bambu.
Tabung-tabung tersebut diasah sedemikian rupa sehingga
menghasilkan nada yang beresonansi jika dipukulkan. Dua tabung
tersebut kemudian ditala mengikuti tangga nada oktaf. Untuk
memainkannya, bagian bawah dari bingkai ini dipegang oleh satu
tangan, sementara tangan yang lain menggoyangkan Angklung secara
cepat dari sisi kiri ke kanan dan sebaliknya. Hal ini akan
menghasilkan suatu nada yang berulang (Anonim3, 2011).
Kata Angklung konon berasal dari Bahasa Sunda (angkleung-
angkleungan), yang menggambarkan gerak tubuh para pemain
Angklung
yang berayun-ayun seiring irama yang dibunyikan. Namun,
ada juga yang meyakini kata Angklung
berasal dari klung, tiruan
bunyi instrumen bambu tersebut. Sementara satu teori lainnya
menyebutkan, kata Angklung berasal dari Bahasa Bali, yakni angka
dan lung. Angka berarti nada, sedangkan lung berarti patah, atau
dengan kata lain, Angklung
bermakna nada yang tidak lengkap
(Anonim4, 2013).
Angklung
dikenal pada kerajaan Sunda abad ke-12 sampai
abad ke-16. Asal usul alat musik bambu, seperti Angklung didasarkan
pada pandangan masyarakat Sunda dengan sumber kehidupan dari
padi sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos
kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi.
Masyarakat Baduy, yang dianggap sebagai sisa-sisa masyarakat Sunda
asli, menerapkan Angklung
sebagai bagian dari ritual mengawali
penanaman padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat
|