|
33
Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.
Selain itu, Angklung
juga digunakan sebagai penggugah semangat
dalam pertempuran. Fungsi Angklung
sebagai pemompa semangat
rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya
pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat
menggunakan Angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas
Angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu
itu (Anonim5, 2013).
Adapun beberapa macam Angklung, yaitu sebagai berikut:
Angklung Kanekes
Angklung
Kanekes adalah Angklung
yang
dimainkan
oleh masyarakat Kanekes (Baduy), di daerah
Banten. Sebagaimana disinggung sebelumnya, tradisi
Angklung
yang ada pada masyarakat Kanekes ini terbilang
kuno, dan tetap dilestarikan sebagaimana fungsi yang
dicontohkan leluhur mereka, yakni mengiringi ritus
bercocok-tanam (padi). Pada masyarakat Kanekes, yang
terbagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok Baduy Luar
(Kajeroan) dan kelompok Baduy (Luar Kaluaran), yang
berhak membuat Angklung
hanyalah warga Baduy Jero, itu
pun tidak semua orang, melainkan hanya mereka yang
menjadi keturunan para pembuat Angklung. Sementara itu,
warga Baduy Luar tidak membuat Angklung, melainkan
cukup membelinya dari warga Baduy Jero. Nama-nama
Angklung
di Kanekes dari yang terbesar adalah
indung,
ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik,
torolok, dan roel.
Angklung Dogdog Lojor
Kesenian Dogdog Lojor terdapat di lingkungan
masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan, yang mendiami
sekitar Gunung Halimun, yang berbatasan dengan wilayah
Jakarta, Bogor, dan Lebak. Istilah Dogdog
Lojor sendiri
sejatinya diambil dari nama salah satu instrumen dalam
tradisi ini, yakni Dogdog Lojor. Namun demikian, Angklung
|