|
1
2.1.2. Data Khusus
2.1.2.1. Istilah Anoreksia Nervosa
Anoreksia nervosa adalah eating disorder yang berdampak pada psikis
dan merusak tubuh seseorang melalui kelaparan yang akut (Schulherr, 2008).
Menurut Schulherr, penderita anoreksia mempunyai rasa ketakutan akan
kegemukan, dan mengatasi ketakutan tersebut dengan tidak makan, walaupun
berat badan mereka sudah ringan sekali. Dengan menolak makan, penderita
anoreksia bisa merasakan sense of control, di situlah satu-satunya tempat
yang mereka bisa merasa bahwa mereka yang benar-benar memegang
kendali.
Anoreksia pada umumnya mulai diderita seseorang pada usia remaja,
walaupun bisa juga mulai muncul ketika anak-anak berusia lima tahun atau
pada orang tua berusia 60-an tahun. Gejala anoreksia bisa bermacam-macam
tergantung individu yang menderitanya (Kompas 2001).
Selain berolah raga secara berlebihan penderita anorexia biasanya punya
kebiasaan makan yang aneh, seperti menyisihkan makanan di piringya dan
memotong-motongnya menjadi bagian-bagian kecil, mengunyah lambat-
lambat, serta menghindari makan bersama keluarga. Mereka menganggap
kulit dan daging pada tubuh mereka sebagai lemak yang harus dimusnahkan.
Tidak adanya lemak di tubuh membuat penderita anorexia merasa tidak
nyaman ketika duduk ataupun berbangun (saking kurusnya). Selain itu
mereka juga sulit tidur. Dengan berlanjutnya penyakit ini, penderita mulai
suka menyendiri dan menarik diri dari teman dan keluarga (Kompas 2001).
Tubuh penderita bereaksi terhadap kondisi ini dengan cara menghentikan
beberapa proses. Tekanan darah manurun drastis, napas melemah, pada
wanita menstruasi terhenti (atau pada anak yang menginjak dewasa, mungkin
menstruasi tidak dimulai sama sekali), dan kelenjar tiroid yang mengatur
pertumbuhan menghilang. Kulit mengering, rambut, dan kuku menjadi rapuh
(Schulherr, 2008).
Gejala lain yang timbul adalah pusing, kedinginan, sembelit, serta
pembengkakan sendi. Kekurangan lemak menyebabkan tempemtur tubuh
menurun. Sebagai mekanisme alam, tumbuh lanugo atau rambut di seluruh
tubuh termasuk wajah. Selain itu, ketidakseimbangain zat kimia dalam'tubuh
juga dapat menyebabkan serangan jantung (Kompas 2001).
|