|
23
lanta i.Di bawa h ini adalah bebera pa pertimbangan dari anak yang bermain dan
belajar di atas lantai: (Olds, Anita Rui, 1976;279)
Sekali dilantai, anak anak cenderung untuk berlama lama disana (dilantai).
Kema mpuan untuk bermain dilantai yang membua t ruang lebih fleksibe l dan
mengurangi jumlah furniture yang diperlukan.
Pada saat beraktivitas dilantai, anak anak dapat menyesuaikan posisi serta
ketinggia n anak dengan cara duduk ataupun berlutut.
d. Aspek Dinding
Tuntutan yang harus dipe nuhi dinding pada ruang ruang publik antara lain
mudah pemeliharaannya, mampu meredam suara, menunjang aspek dekoratif, tahan
terhadap kelembaban, memperlihatkan kesan atau sifat ruangan tertentu yang sesuai
dengan siste m pencahayaan atau pe nghawaan, baik secara alami maupun buatan.
(Suptandar, 1995)
Seluruh permukaa n dinding hendaknya mengguna kan bahan yang
ha lus, tidak
licin, dan mudah dibersihkan serta mempunyai kemampuasn untuk menyerap bunyi
dengan baik. (Neufert, 1995)
Porsi terbe sar dari dinding ruang kelas dan ruang bermain indoor sebaiknya
menggunakan permukaan dengan materia l yang lembut. Kese garan dinding baik
mate rial maupun bentuknya akan mera ngsang emosi da n persepsi anak. Maka
diperlukan variasi dengan desain yang menarik, se derha na dan selektif.Suara anak
yang meninggi ka rena e kspresi emosional me reka, membutuhkan dinding yang
menyerap suara ana k, maupun suara-suara lain yang mengganggu. (Fowler,
1980;107)
Sebaiknya ketinggian dinding massif (dinding bata) tidak dibuat mencapai
c eiling, melainkan diteruskan denga n dinding kaca pada bagian atasnya setinggi mata
orang dewasa, agar orang dewasa dapa t mengamati anak yang beraktivitas di
dalamnya. (Fowler, 1980;101)
e . Aspek Furniture
Setiap anak lebih mudah ketika area bela jar dan bermainnya diorganisasikan
dengan skala ukuran anak dengan furniture dan alat ala t yang diatur dengan
meminimalkan kekacauan atau ke rusakan ya ng lebih membe rikan kebebasan
bergerak. (Fowler, 1980;270)
|