|
MunaVvir
(1995)
mcnyata.kan., «Dengan menginat
ntau mcmpcrhatikan sifat-sifat
laporan
keu.angan tersebut
diatas,
maka
dapat
ditarik
ke:simpulan
bahwa
laporan
keu.angan itu
mempun.yai behempa
keterbatasan, anlar&
lain:
1.
Laporclll keuangan
pada
dasamya
merupakan interim
report
(lapomn
keuangan
yang
dibuat
antara
waktu
tertentu
yang
sifamya
sementara) dan
bukan
merupakan
laporan
yang
final
karena
Iaporan
keu.angan yang
d11aporkan
tidak
menunjukan
nilai
realisasinya
schingga
laba
rugi
r:iil
hanya dapat dik:ctahui
apabila
perusahaan
dijual
atau dilikuidasi.
2. Laporan keuangan
menunjukkan angka
dalam
Rupiah
yang
kelihatanya bersifat pasti
ilim tepat,
tetapi
sehenamya dasar
penyusLmannya
dengan
standart
n.ilai
yang
mungkin
be-rbed..a
atau
bcrubah-ubah.
Misalnya
denagn
adanya
prinsip
atau
konsep
going
concern
sehingga
aktiva
tetap
dini1a1
herdasarkan
ni!ai
hisluris
dan
dikurangl
dengan
akmnu!asi
penyusutan
maka
nil.ai tidak ak.an
mencemrinkan
niiai jual
dari
ak+Jva
tctap
tersebu.t,
karena
angka
yang
tcrcantum
dalam
lapnran
keuangan
merupakan book
value yang
be1um tentu
sama dengan llilai pasar sekarang.
3.
Laporan
keuangan
disll"iUn
berdasarkan
hasi]
pencatatan transak:si
kcu.angan
atau
nilai
Rupiah
dari
berhagai
Vvaklu atau
tanggal
yang
lalu,
dimana
daya
beli
(purchasing
power)
uang
tersebut
:semakin
menurun,
dibandingkan
dengan
tahun
{aill.L."'l
sebelumnya.,
sehingga
kenaikan
volume penjualan
yang dinyatakan
dalam
Rupiah
belum tentu
mcmmjukkan
atau
mencermink:an
unit
yang
dijuai
sen:mkin
besar. Padahal
kcxnungkinan
kenaikan
volume
pen_jualan
tersebut
disebabkan
nailrnya harga jual barang terJ:>ebut
yang mungkin
juga diiluti
kenaikan
tingkat
harga-harga (inflasi).
|