|
9
Bab 2
Landasan Teori
2.1 Konsep Kepercayaan Agama Dalam Masyarakat Jepang
Di Jepang, mayoritas masyarakatnya menganut agama Buddha dan Shinto, dan
setelah
itu mayoritas terbanyak adalah Kristen
yang
mulai
berkembang
pesat.
Diantaranya
ada
pula
orang
yang
menganut
dua
agama
sekaligus.
Namun
kini
jumlah
orang
yang
menganut
salah
satu
agama
saja
di
Jepang
begitu
sedikit.
Bahkan
banyak
pula
orang
yang
tidak
menganut
agama
apapun.
Menganut
salah
satu agama
memang
dianggap tidak begitu penting oleh masyarakat Jepang. Bagi sebagian besar pemuda
Jepang, agama tidak berguna untuk menghilangkan rasa pesimis, cemas, atau gelisah.
Pemuda Jepang sangat tidak peduli akan agama. Pada umumnya orang Jepang tidak tahu
ajaran
agama
dan
tidak
punya
minat
pada
ajarannya.
Datang
ke
kuil
atau
melakukan
suatu ritual dan perayaan, bagi
orang
Jepang
sendiri
itu
semua
merupakan
kebiasaan,
bukan merupakan kegiatan agama (Ishizawa, 2005).
Terlepas dari ketidakpercayaan terhadap
agama,
masyarakat
Jepang masih
mempertahankan
agama
dan
ritualnya
sebagai
tradisi
ribuan
tahun.
Oleh
karena
itu,
tidak
heran
kalau
mereka
memiliki
pola
hubungan
yang
unik
dengan
agama
mereka.
Hal-hal yang berkaitan dengan agama hanya dilakukan pada saat-saat tertentu, seperti
kelahiran,
pernikahan,
dan
kematian.
Di
luar
itu,
pada
umumnya orang
Jepang
tidak
terlalu religius. Ritual yang mereka lakukan di kuil-kuil hanya dilakukan sebagai
formalitas dan upaya untuk mencari kedamaian saja (Wahyono, 2006).
|