|
14
Dengan
kata
lain
giri
juga
turut
berperan
dalam
hubungan
manusia
dengan
manusia
lain
di
dalam
masyarakat
dan
mengatur
sikap
seseorang
agar
bisa
diterima
oleh
orang
lain. Tidak
hanya
dalam
masyarakat
tetapi juga dalam keluarga
yang
tidak
begitu
akrab
seperti
paman,
bibi
atau
ibu mertua,
karena
giri ditujukan
untuk
semua
orang
dan
menuntut
seseorang itu
untuk
memenuhi kewajibannya tersebut
karena
ia
telah
mendapat sebuah
kebaikan
dari orang
lain.
Dengan
begitu
giri terhadap orang
lain
telah
membuat
setiap manusia
di dalam
masyarakat
hidup
dalam
hubungan
timbal
balik
yang
sudah
sepantasnya.
Hal
ini bertujuan
untuk
membentuk
kelompok
masyarakat
yang
harmonis
karena
memiliki
tata krama
yang
sudah
seharusnya
mereka
lakukan.
Tanpa
melakukan giri, masyarakat Jepang akan sulit menjalani
hidupnya.
Giri telah
menjadi sebuah aturan tak tertulis
yang harus
dilakukan
oleh orang Jepang
dalam hidup
bersama
individu
lain, meskipun
mereka
adalah
keluarga
sendiri.
Seperti
dikatakan
oleh
De Mente
(1997:5)
bahwa
secara
keseluruhan
faktor
kontrol
dalam
hubungan
setiap
pribadi
di
Jepang
disatukan
ke dalam
kata
giri,
yang
diterjemahkan
sebagai kewajiban, tanggung
jawab
dan keadilan.
Sehingga seluruh
kehidupan manusia
dalam masyarakat Jepang telah diatur oleh sebuah giri.
Minami
(1993:159)
juga mengatakan
bahwa
bangsa
Jepang
memberikan
pelayanan
kepada
masyarakat
dengan
cara mematuhi
giri secara
terus menerus.
Bahkan
ketika
seorang
itu tidak
mengetahui
mengenai
giri akan
dikatakan
sebagai
manusia
yang
egois
dan
tidak
mengenal
apa
itu
hutang
budi,
karena
itu
giri
sangat
penting
dalam
menjaga
sikap seseorang di dalam masyarakat.
Menurut Davies dan Osamu (2002:95) dituliskan
bahwa:
A
key
concept
in
understanding
Japanese
culture and certain
characteristic
patterns
of
behavior
among
the
Japanese
arising
from
tradisional
attitudes
toward
moral
duty and social obligation is known as giri.
|