Home Start Back Next End
  
14
juga
yang
"nanggap
wayang
kulit
Betawi" sampai
subuh
atau
jenis
kesenian
lainnya
yang sesuai dengan permintaan
si penganten
sunat.
Bagi  orang 
Betawi
melaksanakan 
resepsi 
khitanan 
dilakukan 
hanya
untuk
anak
laki-laki
pertama
saja
atau
suiung,
anak
laki-laki
lain
yang
disunat 
tidak 
lagi  dirayakan 
besar-besaran, 
yaitu 
berupa  selamatan
tahlil dan
mauiid saja.
2.1.1.5
Usaha
Menjaga Tradisi Budaya Betawi
dari
Globalisasi
Beberapa
upaya
pelestarian
budaya Betawi
terus
dilakukan
Pemerintah,
seperti
membuka
eagar
budaya, festival-festival
Betawi,
karnaval
budaya
dari
Jakarta
Fair
Kemayoran
(JFK)
atau
PRJ
tahun
2010
lalu yang
didalanmya
juga
mengadakan
acara
mengarak
pengantin
dan
pengantin   sunat, 
ondel-ondel,   dan 
yang 
lainnya 
untuk 
mengenalkan
tradisi 
Budaya  dari
Betawi 
itu
sendiri,
juga 
upaya
pendaftaran  budaya
Betawi  sebagai 
budaya 
warisan
dunia.  Sebagai 
ibukota 
negara,
Jakarta
yang 
menjadi 
pusat 
perkembangan 
modernisasi, 
pusat  pembauran
sekaligus
menjadi pusat
perubahan,
memang
mendapat
tantangan
ekstra
besar
dalam
pelestarian
budaya ini.
Seperti
dikatakan
Ketua
III
Badan
Musyawarah
Betawi
DKI,
Beky
Mardani,
pelestarian
kebudayaan
Betawi
merupakan
permasalahan
yang
cukup
kompleks.
Karena,
tantangan
yang
dihadapi
bukan
hanya pengaruh
budaya
nasional
tapijuga
internasional.
Seperti
disebutkan
di atas,
di
samping
sudah
bergeser
dari
fungsi
awal,
semakin 
banyak  kebudayaan  Betawi 
yang  tidak  dapat  dinikmati
masyarakat
saat ini. Seperti
halnya juga dengan
ritual ataupun
tradisi asli
budaya
Betawi
yaitu
Penganten
Sunat
Betawi,
acara-acara  semacam
ini
sudah
jarang
digelar
di
kalangan
masyarakat
jaman
sekarang
apalagi
di
perkotaan, 
jadi  sudah 
semakin 
terlupakan, 
walaupun 
diperkampungan
terkadang 
masih 
dilakukan. 
Lama-kelamaan 
masyarakat 
sudah 
muiai
melupakan 
tradisi   macam 
ini, 
Menurut 
salah   seorang   warga 
Situ
Babakan 
yang  tinggal 
tepat  di  pusat 
kebudayaan 
Betawi 
mengatakan
"Kalau 
sekarang 
sih 
hanya 
untuk 
mengikuti  kewajiban 
saja,  acaranya
juga tidak
secara
besar-besaran
seperti
duiu". Lalu
menurut salah
seorang
warga
lain
mengaku  tradisi  upacara-upacara  seperti
ini
masih
dianggap
penting, 
apalagi 
kalau 
diperkampungan, 
"Berbeda 
dengan 
duiu 
yang
lebih ramai dan
lebih sering
terlihat, tidak seperti
sekarang" katanya.
"
Di
perkotaan 
yang
cenderung 
mernilih
serba
instant, 
biasanya
sunatan
dilaksanakan
seadanya,
ataupun
dengan
dokter
saja"
kata
Bapak
Rudi 
dari 
Lembaga 
Kebudayaan 
Betawi. 
"Memamerkan  
kebudayaan
Betawi
sangatlah
penting",
lanjut
Bapak
Rudi,
karena
hal
ini
kebudayaan
Betawi 
tengah 
menghadapi 
tantangan 
besar 
menahan 
masukuya 
arus
budaya   luar. 
Bapak   Indra   dari 
Perkampungan   Budaya 
Betawi   pun
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter