![]() Kategori lainnya adalah gambargambar yang menyertai teks di dalam
media massa. Artifak visual biasanya muncul mengiringi teks pada cerpen dan
tajuk utama atau editorial.Seorang Ilustrator dalam menanggapi teks melalui
gambar atau wakil visual yang dihadirkannya dapat kita klasifikasikannya dalam
dua pola; pertama, bagaimana Ilustrator mengolah pesan (what to say), kedua,
adalah bagaimana cara Ilustrator mengolah rupa (how to say).Hampir sebagian
besar artifak visual yang telah dikumpulkan bersifat Naratif dalam olah
pesannya.Dalam hal ini berarti Ilustrator memposisikan dirinya sebagai
interpreter visual.Modusnya mencoba menterjemahkan teks dengan mencari
moment yang paling menarik dan mewakili
dari naskah tersebut, kemudian
mencari wakil visualnya yang paling gamblang/jelas dalam menyampaikan
pesan.Beberapa artifak tampil unik dengan menggunakan pendekatan olah pesan
yang lebih metaforik. Artifak yang muncul di harian Fikiran Rajat (1932),
menggambarkan permasalahan imperialisme dengan metafora seekor anjing
berjenis Bulldog berkalung leher bertuliskan Imperialisme, dengan ujung ekor
muncul sosok kepala priyayi jawa yang bertuliskan boeroeh imperialisme.
Permainan subtitusi visual menghasilkan kiasan-kiasan tak langsung menguatkan
pesan yang disampaikannya.Ilustrator dengan pendekatan metafora, sedikit atau
banyak telah memasukkan opini pribadinya dalam menanggapi teks yang
ada.Gambar tidak hanya sebagai penjelas teks, tetapi sudah bergeser pada opini
visual yang lebih personal.Ilustrasi mulai mencari ruang-ruang otonominya.
Pada wilayah olah rupa, terjadi eksplorasi yang cukup luas (dalam
keterbatasan teknis yang ada) dari gaya visual yang rumit, realis, obyektif dan
khusus sampai ke wilayah ujung paradoksnya yang sederhana, ikonis atau
abstrak, subyektif dan umum. Rentang waktu antara tahun 1929 sampai 1951/53,
sebagian besar ilustrator menggali potensi garis, outline, dan bidang-bidang
datar.Garis-garis liris maupun ekspresif melalui media gambar pena, tinta dengan
kuas menghasilkan kualitas visual yang khas.Garis arsir membentuk tonal
gradasi maupun gelap terang dari obyek-obyek yang dihadirkannya.Di tahun
1956 ditemukan artifak ilustrasi bernada penuh dengan gradasi yang halus.
Kecenderungan tersebut dihadirkan melalui pendekatan teknis hitam putih media
cat air. Gaya gambar yang muncul lebih realis mendekati karya fotografis.Di
akhir 60-an muncul kecenderungan baru dalam mengolah huruf sebagai bagian
dari gambar.Tipografi sebagai gambar (type as image) adalah sebuah kesadaran
baru dari para ilustrator di era tersebut.Kemampuan olah huruf sebagai
pendukung resonansi visual, mengingatkan kita pada Onomatopea di ranah seni
sekuensial.
2.3
Data Umun Seni Tradisional
2.3.1
Seni Tradisional
Seni Tradisional merupakan unsur budaya yang sudah menjadi bagian
hidup masyarakat Indonesia. Berbicara tentang seni tradisional tentu merupakan
|