|
45
adalah seluruh kegiatan yang dimulai dari pengelolaan produk jadi / promosi hingga
distribusi ke konsumen. Tujuan Six Sigma
adalah meningkatkan kinerja bisnis
dengan mengurangi berbagai variasi proses yang merugikan, mereduksi kegagalan-
kegagalan produk / proses, menekan cacat-cacat produk, meningkatkan keuntungan,
mendongkrak moral personil / karyawan, dan meningkatkan kualitas produk pada
tingkat yang maksimal. (Hidayat, 2007, p28)
Six Sigma
pertama kali dikembangkan oleh Motorola pada pertengahan tahun
1980 dan dipublikasikan oleh Jack Welch (General Electric) dalam forum strategi
bisnis (1995). Istilah Six Sigma
diambil dari terminologi statistika, dimana sigma
(s) adalah standar deviasi dalam distribusi normal dengan probabilitas (a) ± 6
(enam) atau sama dengan P
value
= 0,999996 atau efektivitas sebesar 99,9996%.
Dalam proses produksi, standar Six Sigma
dikenal dengan istilah defectively
rate of the process dengan nilai sebesar 3,4 defektif di setiap juta unit / proses.
Artinya, dalam satu juta unit / proses hanya diperkenankan mengalami kegagalan /
cacat produk sebanyak 3,4 unit / proses. Dengan demikian, derajat konsistensi Six
Sigma adalah sangat tinggi dengan standar deviasi yang sangat rendah.
Dibandingkan dengan metode pengendalian kualitas sebelumnya, Six Sigma
memiliki keunggulan pada fungsi-fungsi proses. Six Sigma
tidak sekedar
berorientasi pada kualitas produk / jasa, tetapi juga pada seluruh aspek operasional
bisnis dengan penekanan dalam fungsi-fungsi proses. (Hidayat, 2007, p28-29)
|