Start Back Next End
  
disebabkan oleh frustasi itu sendiri. Apakah individu bertindak secara
agresif maupun tidak bergantung dari kehadiran isyarat agresif yang
memicu kejadian aktual agresi tersebut. Jadi perilaku agresif mempunyai
bermacam-macam penyebab, di mana  frustasi hanyalah salah satunya.
Sears dkk (1994) menambahkan bahwa meskipun frustasi sering
menimbulkan kemarahan, dalam kondisi tertentu hal tersebut tidak
terjadi. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa peningkatan
frustasi tidak otomatis menimbulkan perilaku agresi, melainkan ada
beberapa faktor lain yang dapat mencetusnya.
Menurut Baron dan Byrne (1994), timbulnya perilaku agresif dilihat dari
dua kondisi, yaitu kondisi internal dan kondisi eksternal. Kondisi internal
terdiri dari (1) Kepribadian ; (2) Hubungan interpersonal yang salah
satunya adalah komunikasi ; (3) Kemampuan. Kondisi eksternal terdiri
dari : (1) Frustasi ; (2) Provokasi langsung yang bersifat verbal ataupun
fisik yang mengenai kondisi pribadi; (3) Model yang kurang baik dalam
lingkungan.
3.
Faktor Belajar
Pendekatan belajar adalah pendekatan yang lebih kompleks dalam
menerangkan agresi. Ahli-ahli dalam alinan ini meyakini bahwa agresi
merupakan tingkah laku yang dipelajari dan melibatkan faktor-faktor
eksternal (stimulus) sebagai determinan pembentukan agresi tersebut.
Pendekatan ini dikembangkan lagi oleh ahli-hali yang percaya bahwa
proses belajar berlangsung dalam ruang lingkup yang lebih luas di
samping melibatkan faktor-faktor eksternal dan internal (Koeswara,
1988). Faktor tersebut adalah faktor sosial atau situasional.
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter