Home Start Back Next End
  
mengacu pada nama tempat. Kata ini digunakannya untuk menunjuk suatu wilayah yang 
terletak di  sebelah timur India. Pada  perkembangan  selanjutnya,   geolog  Eropa generasi-
kemudian menamai  Sunda untuk suatu dataran bagian  barat-laut India  Timur, sedangkan 
bagian  tenggar anya  dinamai  Sahul.  Selanjutnya,  sejumlah  pulau  yang  terbentuk  di 
dataran  Sunda  diberi  nama  “Kepulauan  Sunda  Besar”  dan  “Kepulauan  Sunda  Kecil”. 
Istilah  yang  pertama  mengacu  pada  himpunan  pulau  yan g  berukuran  besar  yang  terdiri 
atas pulau-pulau Sumatera,   Jawa. Madura, dan  Kalimantan. Istilah yang kedua mengacu 
pada  gu gusan pulau-pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, dan  Timor. 
Sunda juga  menjadi nama  kerajaan di b agian b arat Pulau Jawa, Kerajaan Sunda, 
yang  beribukota  di  Pakuan  Pajajaran    berdiri  pada  abad  ke-7  dan  berakhir  pada  tahun 
1579  M.  Sejak  keruntuhan  kerajaan  itu,  nama  Sunda  terutama  yang  mengacu  pada 
pengertian  geografis  tid ak  begitu  menonjol.  Istilah  Sunda  mengemuka  lagi  pada  awal 
abad   ke-20 melalui kelahiran   organisasi  Paguyuban  Pasundan (1914). Perkumpulan  ini 
bertujuan  meningkatkan  derajat,  harkat,  martabat,  dan  kesejahteraan  orang  Sunda. 
Organisasi  ini  pernah  mengusulkan  kepada  Pemerintah  Kolonial  Belanda  agar  nama 
Province  West  Java  yang  dibentuk  pada  tahun  1926  diubah  namanya  menjadi  Provinsi 
Pasundan.  Usulan  tersebut  disetujui  oleh  pemerintah  kolonial,  sehingga  k etetapan 
tentang  pembentukan  provinsi  ini  berbunyi:  “…West  Java,  in  inheemsche  talen  aan 
teduiden  als  Pasoendan,  ….”  (Jawa  Barat,  dalam  bahasa  pribumi  [Bahasa  Sunda] 
menunjuk sebagai Pasun dan)   (Muhsin. 2009). 
Sementara  itu  Edi  S.  Ekadjati  dalam  “Kebudayaan  Sunda  :  Suatu  Pendekatan 
Sejarah)”,    mengemukakan  bahwa  Tanah  Sunda  merujuk  pada  bekas  wilayah  Kerajaan 
Sunda  Pajajaran,  yan g  kemudian  berdiri  sendiri,  yakni  Sumedang  Larang,Banten, 
Cirebon,  dan  Galuh.  Sumedang  Larang  dan  Galuh  kemudian  menjadi  satu  wilayah 
kesatuan  dengan  nama  Priangan.   Dalam  perkembangan  berikutnya,  Priangan  sering 
dikatankan sebagai Pusat Tanah Sunda.  
Orang  Sunda  memiliki  hubungan  yang  kuat  dengan  alam.  Adanya  kepercayaan 
dan  kesadaran  dalam  menyelaraskan  dengan  alam  setidaknya  adalah  su atu  wujud  sikap 
dan  karakter  dimana  manusia  Sunda  tidak  akan  menjadikan  alam  sebagai  b ahan 
eksploitasi  (Indrawardhana.2012:6).  Pada  hakekatnya  sikap  masyarakat  Sunda  dalam 
hubungannya  dengan  alam,  lebih  bersifat  menyesuakan  diri  dengan  alam.  Hal  ini 
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter