|
tampak dalam hal bertani yang harus melaksanakan tradisi kepercayaan adat berupa
sesajen, tumbal-tumbal hewan, atau benda-benda yang digunakan untuk menanggulangi
permasalahan kehidupan yang dianggap atau dipercaya karena adanya aspek hubungan
dengan alam (Suryaatmana, dkk, 1993).
Dikemukakan pula dalam Lubis (1998:26): Mata pencaharian utama penduduk
Priangan pada mulanya berladang atau ngahuma; baru kemudian bersawah. Sejak
zaman kerajaan Sunda, orang Sunda dikenal bermata pencaharian sebagai peladang. Ciri
yang menonjol pada masyarakat peladang adalah kebiasaan selalu berpindah tempat
untuk mencari lahan yang subur. Kebiasaan berladang ini berpengaruh pada tempat
tinggal. Mereka tidak memerlukan bangunan permanen yang kokoh, cukup yang
sederhana saja.
B. Falsafah Sunda
Dalam kehidupan masyarakat Sunda (Urang Sunda) menganut falsafah hidup.
Beberapa yang telah dik enal masyarakat luas di antaranya seperti silih asah, silih asuh
silih asih ,kabuyutan, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, pada
pakaian tradisional
Sunda, di mana kaum laki laki mengenakan selembar kain penutup kepala yang
disebut Iket. Di dalam Budaya Sunda, Iket ini memiliki filosofi yang disebut
Makutawangsa. Akan tetapi dalam konsep umum mengenai falsafah hidup tersebut
dalam budaya Sunda terdapat konsepsi dasar, sebagai berikut:
Tritangtu
Dalam bukunya Khasanah Pantun Sunda Sebuah Interpretasi, Jakob
Sumardjo mengemukakan bahwa, TriTangtu pada masyarakat sunda memang tidak bisa
dipisahkan karena tritangtu adalah azas kesatuan tiga, yang merupakan azaz dasar
masyarakat Sunda lama. TriTangtu sesun gguhn ya adalah gagasan berpikir filosofis
yang rasion al yang digunakan untuk menjaga keselarasan dalam berkehidupan, baik
vertikal maupun horizontal. Tri artinya Tiga, sedangkan Tangtu (Bahasa Sunda) artinya
pasti atau tentu (Ensiklopedia Budaya digital Tikar Media, diakses Maret 2014).
|