|
23
Eksistensi
itu bergerak menuju upaya menyucikan diri dengan sendirinya. Dengan
begitu,
agama
dan
karya
sastra
bergabung
dalam
sikap
pengarang
/
pencipta
ketika
ia
berusaha menyaksikan hal-hal duniawi sambil berorientasi ke unsur yang kekal.
Setelah
pasca
Perang
Dunia
kedua,
sikap
budayawan
terhadap
agama
Kristen
mulai
menampakkan beberapa
perubahan.
Mereka
bersikap
tidak
membanci
ataupun
memprotes agama asing
itu
seperti
yang ditunjukkan pada
masa
sebelum
Perang Dunia
kedua.
Sikap
mereka
terhadap
agama
Kristen
menjadi
lebih
netral.
Sikap
seperti
rasa
ingin
tahu
pada
unsur
eksotisme
dalam
agama
Kristen
yang
diidamkan oleh
kaum
cendekiawan sebelumnya sudah tidak tampak lagi.
Sebagai
contoh,
menurut
Fukuda
Tsuneari
(19121994),
pandangan
dunia
maupun
budaya,
pandangan
tentang
manusia,
pandangan tentang
kematian
dan
kehidupan,
diciptakan
berdasarkan konsep
pemikiran
Katolikisme. Ia
tidak
dibaptis
ataupun
menganut
agama
Katolik.
Namun,
ia
menyatakan dirinya
seperti
pengemudi
mobil
yang
beragama Katolik tanpa
SIM.
Dengan kata
lain,
ia
dilatar-belakangi
pandangan agama Katolik, tetapi
tidak
mengabaikan kebudayaan Jepang
yang
tertanam
dalam
dirinya.
Perhatiannya yang
paling
besar
adalah
terhadap
keterlibatan
agama
Katolik dalam budaya Jepang.
Pada
pasca
Perang
Dunia
kedua,
mereka
yang
termasuk
di
antara
jajaran
pengarang kelompok
agama
Protestan
adalah
Sako
Junichiro, Miura
Ayako,
Abe
Mitsuko, Shiina
Rinzo
dan
Sato
Yasumasa.
Sedangkan
pengarang yang
termasuk
di
antara
kelompok agama
Katolik
adalah
Endo
Shusaku,
Sono
Ayako,
Miura
Shumon,
Ariyoshi
Sawako,
Shimao
Toshio
dan
Ogawa
Kunio.
Dilihat
dari
nama-nama tersebut,
para pengarang kelompok Katolik lebih menonjol dalam penulisan karya sastra.
|