Home Start Back Next End
  
22
yang
baru.
Pada
masa
seperti
itu,
sifat
asing
atau
heterogenitas
agama
Kristen
malah
lebih
bisa
menarik
hati
orang
Jepang
karena
kadang-kadang bisa
memicu
perubahan
masyarakatnya. Tapi, jika perubahan
masyarakat
itu selesai dalam
satu babak dan sistem
baru
telah
ditetapkan,
semangat
mereka
dengan
cepat
terhenti.
Namun
bagaimanapun
juga,
agama
Kristen
telah
menjadi salah
satu
unsur
agama
yang
penting
dalam
kebudayaan Jepang hingga masa kini. Termasuk di dalam perkembangan karya sastra.
Berdasarkan 
sejarah 
tersebut, 
menurut 
teori-teori 
pemikiran 
tentang 
agama
Kristen
dalam
sastra
di
Jepang,
Yamagata
Kazumi
(1994:
164)  berpendapat
bahwa
istilah
kirisutokyo bungaku
(sastra
agama
Kristen)
berarti
sastra
yang
ditulis
oleh
pengarang
/
pencipta
yang
beragama
Kristen.
Koeksistensi unsur
tokoh
dalam
karya
sastra dengan
unsur
kekuatan seperti
Tuhan atau
iblis
merupakan pola asli
yang
umum
bagi
sebagian
besar
tema
karya
mereka.
Garis
horizontal; dalam
hal
ini
perbuatan
manusia,
bertemu
dengan
garis
vertikal,
yaitu
Tuhan
(atau
iblis).
Ini
merupakan unsur
dinamik dalam tema sastra yang banyak dikembangkan.
Kritikus
sastra
Jepang
lainnya,
Takeda
Tomoju
(1976:
318)
menyatakan
bahwa
tidak
ada
arti
kalau
kita
memikirkan putusnya
hubungan
agama
dan
sastra
atau
menyambungnya secara
ideologis. Tetapi,
hal
yang diperlukan oleh pengarang / pencipta
ialah
unsur
agama
Kristen
yang
terdapat
dalam
sastra
modern; termasuk
sastra
kontemporer.
Atau,
bagaimana
sastrawan
Jepang
memperlihatkan ketertarikannya
pada
agama  Kristen  atau  unsur  agama  dalam  sastra.  Kemudian,  pemerhati  karya  sastra
tersebut (bisa pembaca, penonton ataupun pengamat) juga
akan
memperhatikan
maksud
pencipta dalam berbagai karya sastra
secara praktis.
Takeda
(1976:
310)
juga
menyatakan
bahwa
unsur
agama
dan
sastra
bertemu
dalam 
imaji 
pengarang 
/   pencipta 
ketika 
mereka 
memperhatikan 
eksistensinya.
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter