Home Start Back Next End
  
24
Menurut
Takeda,
sastra
Jepang
modern
tidak
bisa
lepas
dari
unsur
“pengakuan”
ala
agama
Kristen
Protestan.
Contohnya adalah
Kitamura
Tokoku
(1868-1894),
yang
menganjurkan
tema  pengakuan
yang  serius. 
Pengarang
sastra
modern
merasa
perlu
untuk
mengakui kebenaran kepada publik pembacanya. Gaya seperti
ini
dikenal dengan
sebutan 
genre 
Shishosetsu  atau 
novel  Aku
yang  khas 
dalam 
sastra  Jepang.  Gaya
penulisan
ini
dipengaruhi oleh dorongan pengakuan dosa
seperti
layaknya dalam agama
Protestan.
Mereka
memakai
cara
pengakuan
berdasarkan kehidupan
pribadi
sebagai
bahan referensi yang paling mudah diperoleh.
Perkembangan
sastra
agama
Kristen
pasca
Perang
Dunia
kedua
yang
dipelopori
oleh
Shiina
Rinzo
(1911-1973)
merupakan tantangan
terhadap
gaya
Shishosetsu
sebelumnya. Para sastrawan
mulai
mencari kebenaran eksistensi
Tuhan atau keberadaan
manusia.
Gagasan
mereka tidak ditunjang oleh
formalitas pengakuan fakta
yang disebut
“zange”
(pengakuan /
pertobatan), tetapi
didorong
oleh
unsur
konflik
batin
atau
drama
kejiwaan
manusia
yang
terjadi sebelum
proses
pencapaian zange
itu.
Karena
itu,
untuk
menulis
karya
sastra
atau
naskah
drama,
bagaimanapun juga
akhirnya
mereka
harus
mempunyai
kesadaran
tentang
manusia.
Mereka
berusaha
menulis
tentang
pandangan
manusia
yang
diperoleh
dari
pengalaman melalui
agama
Kristen
Katolik;
seperti
persoalan 
dosa  
manusia, 
konflik 
kebaikan 
dan   kejahatan, 
nasib  
manusia 
yang
menyangkal
Tuhan walau di
sisi
lain
ia
mencari Tuhan, dan sebagainya. Agama Katolik
banyak
berpengaruh dalam
sejarah
sastra
Jepang.
Pengaruh
agama
Katolik
mengambil
alih
peranan
pengaruh
agama
Protestan,
yang
menganggap “pengakuan” sebagai
tema
yang
paling
tinggi
hakekatnya di
antara
tema-tema
lain.
Karena
itulah,
sastra
pasca
perang menyangkal sastra “pengakuan”.
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter