|
10
pertanyaan:
apa
maknanya.
Jadi,
bagian
pertama
menerangkan tentang
cara
makna
itu
disampaikan:
kiasan,
perlambangan, dan/
atau
metafora.
Bagian
kedua
dari
analisis
semantik
ini
menjawab
makna
dari
kiasan, perlambangan, dan/
atau
metaforanya
tersebut.
Analisis aspek ruang dan waktu (latar) dapat juga digunakan untuk
mencari
makna.
Ruang
dan
waktu
itu
akan
menjadi
metafora
kehidupan
di
tengah-tengah alam
dan
masyarakat. Penggunaan metode analisis tokoh juga dapat dipakai untuk mencari makna.
2.2 Teori
Hubungan Intertekstual Julia
Kristeva
Julia
Kristeva
(1980)
dalam
Desire
in
Language:
A
Semiotic Approach
to
Literature
and
Art mengemukakan tentang teori Intertextualite. Yaitu
teori tentang teks.
Ia
mengemukakan
teori
ini
setelah
meneliti
teori
dialogisme
yang
dikemukakan
oleh
Mikhail
Bakhtin.
Kata
Intertextualite sendiri
artinya
adalah
interaksi
antar
teks
yang
terjadi
dalam
sebuah
teks
cerita.
Maksudnya;
salah
satu
unsur
yang
ada
di
dalam
teks
bisa
menjadi
indeks
yang
mengacu
atau
berhubungan dengan
teks
lain,
sehingga
pemahaman maknanya ditopang oleh rangkaian dari keseluruhan teks.
Dijelaskan oleh
Kristeva,
Bakhtin
membagi
teori
literary
discourse
yang
dikemukakannya ke
dalam
dua
kategori
yaitu
monologue dan
dialogue.
Masih
menurut
Bakhtin, suatu
novel
monolog
(disebut juga
wacana epical)
bertentangan dengan
novel
polifoni
(disebut
juga
wacana
carnivalesque).
Yang
dimaksud
dengan
novel
monolog
adalah
novel
yang
melukiskan sesuatu secara
realistis; sedangkan
yang dimaksud
novel
polifoni
yaitu
wacana
yang
mengandung
suara
ataupun
unsur
yang
majemuk
sifatnya.
Novel polifoni tidak
hanya
menekankan pada
analisis
isi
teks
sumber data,
namun
juga
berhubungan dengan karya
sastra kuno
maupun
masa kini. Kristeva
menyebutnya
|