|
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menjadi penjual siomay keliling dengan pakaian dan aksesori serba pink
membuat Sriyono terkenal, terutama di dunia maya. Mantan miliarder itu juga
pernah menjadi bintang tamu di sebuah stasiun televisi. Siomay Pink juga menjadi
identitas pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu di dunia maya. Mesin pencari Google
menyebut 83.500 hasil yang merujuk pada usaha siomay yang dijalankan Sriyono
sambil berkeliling di atas sepeda pink.
Sriyono menjadi topik hangat di kalangan komunitas
entrepreneur. Sebab,
selain berjualan dengan kostum dan perlengkapan mencolok serba pink,
kegigihannya dalam berwirausaha menjadi inspirasi tersendiri bagi kebanyakan
orang.
Sriyono mengenakan kaus pink, bercelana pendek pink, topi pink, serta jam
dan bahkan anting pink dalam berjualan siomaynya, sehingga tampilan Sriyono yang
sangat nyentrik dapat membuat para pembeli untuk membeli siomaynya. Namun di
balik penampilan nyentrik itu, tersimpan kisah perjuangan hidup yang cukup berliku.
Kisah sukses Sriyono dimulai pada 1969 ketika pria kelahiran Klaten, 21 Juli
1954, tersebut merantau ke Jakarta untuk menjadi sales mobil. Ketika itu, tiba-tiba
saja dia sangat gemar pada makanan khas Indonesia, siomay dan memutuskan untuk
belajar cara membuat makanan itu. Dia lantas berguru pada seorang keturunan
Tiongkok asal Pulau Bangka. Dialah yang mengajari Sriyono membuat siomay.
Setahun penuh Sriyono bekerja tanpa digaji untuk mendapatkan resep rahasia sang
penjual siomay itu. Beberapa tahun kemudian, sang guru meninggal dan mewariskan
usaha Siomay kepada Sriyono. Pada 1980-an, Sriyono memberanikan diri memulai
usaha siomay keliling di Jakarta dengan modal patungan dengan beberapa teman.
Berbagai cara ditempuh untuk membesarkan usaha tersebut. Mulai membikin
armada siomay sepeda keliling sampai mendirikan warung-warung kecil. Puncak
sukses diraih pada 1996 ketika dirinya berhasil membuat salah satu outlet di salah
satu mal elite di ibu kota, yakni Plaza Senayan.
Sriyono adalah pendiri dan pemilik outlet Siomay Senayan dengan beberapa
cabang. Pendapatan bisnisnya ketika itu mencapai Rp 2 miliar per tahun. Dia
menikmati sukses berjualan siomay dengan berstatus bujangan. Sriyono mengenang,
tinggal di ibu kota dengan duit melimpah ketika itu bagai hidup di surga. Bahkan,
bisnisnya sangat kuat sehingga ketika krisis 1998 menerpa modalnya tidak
berkurang. Tapi, dia justru masih bisa mendirikan outlet di beberapa tempat lain.
April 1999, Sriyono memutuskan untuk mengakhiri masa lajang dan menikahi putri
seorang polisi.
Pernikahan yang tidak direstui orang tua sang istri itu kemudian menjadi bom
waktu bagi kehidupan Sriyono. Pertengkaran demi pertengkaran pun terus muncul
sehingga konsentrasi Sriyono pada bisnisnya mulai berkurang.
Ketika itu, dia menjadi satu-satunya pengusaha siomay yang meneken
kontrak dengan gerai waralaba Kentucky Fried Chicken (KFC). Dia menyuplai
|