Home Start Back Next End
  
2
ice cream
pada biasanya. Ron’s Laboratory merupakan gerai gelato yang
menggunakan teknik molecular gastronomy
dalam pembuatannya, yakni
penggabungan teknik memasak dengan ilmu kimia-fisika. Asal mula diberikan nama
Ron’s Laboratory
ini karena pencetusnya
ini bernama Ronald, maka Ron’s diambil
dari singkatan nama Ronald. Sedangkan kata  “Laboratory” ini diambil karena pada
store
ini memiliki konsep seperti layaknya sedang berada
di laboratorium
dengan
orang-orang berjas putih menggunakan
berbagai peralatan, seperti tabung liqiuid
nitrogen yang tersambung dengan pipa, coffee grinder, dan gelas ukur. Ron’s
Laboratory memiliki berbagai macam varian rasa seperti Red Velvet, Avocado with
Espresso, Base with Carame Swirl, Dark Chocolate
dan Tape Ketan, serta
Lemongrass Sorbet, untuk menarik konsumen Ron’s selalu mengahadirkan rasa baru
setiap bulannya. Store
“Ron’s Laboratory” pertama berada di
West Mall
Grand
Indonesia lantai 5, store
lainnya berada di Pondok Indah Mall dan juga terdapat di
Lippo Mall Puri. Banyaknya minat dari berbagai kota lainnya, membuat Ron’s mulai
merambah bisnisnya ini diberbagai kota besar di Indonesia  yaitu di Medan dan
Surabaya.
Baru berdiri di bidang food and beverage
bukan hal yang mudah bagi
perusahaan untuk tetap bertahan dan berkembang seiring banyaknya perusahaan
pesaing yang sudah lama dan lebih dulu berkembang.
Untuk tetap bertahan
perusahaan tentunya harus berupaya dalam membina sumber daya manusia agar
menjadi sumber daya manusia yang berkualitas untuk memaksimalkan kinerja
perusahaan. 
Dalam proses perkembangan, ternyata PT. Panca Rasa Kreasi mengalami
kendala dalam mengelola sumber daya manusianya. Salah satunya adalah gaya
kepemimpinan dan lingkungan kerja non fisik. Hal itu diduga dari hasil wawancara, 
kurangnya hubungan baik antar karyawan yang disebabkan oleh persaingan antara
karyawan tidak berjalan dengan semestinya, dan kurangnya kerja sama antara tim
untuk menyelesaikan pekerjaan juga salah satu faktor lingkungan kerja yang
membuat karyawan tidak bertahan dalam perusahaan. Hal lain juga terlihat dari gaya
kepemimpinannya,
atasan
selalu memberikan tekanan pada bawahannya saat
memberikan tugas. 
Penelitian Dixon dan Caldwell (2010) menguatkan bahwa gaya
kepemimpinan yang mendukung karyawan berpengaruh secara nyata terhadap
rendahnya retensi karyawan untuk keluar. 
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter