Home Start Back Next End
  
16
Yang
menunjukkan perbedaan
pembicara
pada
kalimat
di
atas
adalah
keberadaan sisipan
[da]
dan
partikel
akhir/shuujyoshi
[wa].
([dewa]
juga
merupakan bahasa wanita.)
Dengan
mengesampingkan situasi khusus,
kalimat
A
jelas
merupakan kalimat
yang
diucapkan wanita.
Yang
menjadi
masalah
adalah
kalimat
B.
Jika
dibandingkan
dengan
kalimat
A
seperti
di
atas,
maka
kalimat
B
adalah
kalimat
yang diucapkan oleh pria. Akan
tetapi, bagaimana dengan kenyatannya. Bukanlah
hal
yang aneh bagi seorang
wanita untuk
mengatakan kalimat B, contohnya ketika
seorang wanita paruh baya berbicara kepada anak perempuannya. Akhir-akhir
ini,
pemakaian bahasa di kalangan wanita meluas.
Sudjianto 
(2004:210)  juga 
menjelaskan  mengenai  adanya  penyimpangan  dalam
penggunaan danseigo (bahasa pria) dan joseigo (bahasa wanita).
Penggunaan
danseigo
oleh
penutur
wanita
dan
penggunaan joseigo
oleh
penutur
pria
dapat
dianggap
sebagai
suatu
penyimpangan sebab
masyarakat
tidak
menghendaki perilaku kebahasaan
yang
tidak
sesuai dengan
norma-norma sosial.
Penyimpangan seperti
itu dilakukan untuk tujuan-tujuan tertentu dan dalam
situasi
tertentu.
Pemakaian
danseigo
oleh
wanita
hanya
sebagai
’bahasa
pertemanan’
atau  ’bahasa  pergaulan’
yang  digunakan  terhadap 
teman  sebaya  atau 
teman
sekelas
yang
sangat
akrab
dalam
situasi
bermain. Sebab
dalam
situasi
lain
atau
dengan
lawan bicara
lain, terutama
setelah
usia
mereka
meningkat dewasa,
maka
kata-kata  seperti 
ini  tidak 
muncul  dalam  pemakaian  bahasanya.  Begitu  juga
joseigo
yang
dipakai
pria,
hal
itu
dilakukan
hanya
untuk
tujuan-tujuan
tertentu,
misalnya
untuk
tujuan
bisnis
untuk
menarik
minat
para
pelanggan yang
menjadi
lawan bicaranya yang kebetulan sebagian besar kaum wanita.
Dari
penjelasan
di
atas,
dapat
dilihat
bahwa
dalam
prakteknya, wanita
Jepang
terkadang
menggunakan bahasa
pria
dan
pria
Jepang
juga
terkadang
menggunakan
bahasa wanita dalam situasi tertentu.
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter