|
9
mana serangan-serangan bertenaga dari pihak
lawan
yang semestinya dielakkan,
bukan ditangkis. Dari gerakan-gerakan inilah tercipta jurus kera.
Kemudian manusia mulai memikirkan untuk menggunakan fasilitas dari alam,
seperti
menggunakan
tongkat
kayu
dengan
batu tajam
di
ujungnya
sebagai
senjata,
dimana
sekarang
sering
kita
saksikan
di
film-film maupun
kehidupan
sehari-hari
sebagai tombak. Dengan menggunakan senjata, kedudukan manusia menjadi semakin
kuat,
pengalaman
bertempur
manusia semakin diperkaya dengan melakukan
pengamatan lanjut terhadap cara-cara hewan dalam mengelakkan serangan manusia
yang bersenjata. Dari situ manusia mulai menyadari bahwa kekerasan dapat
dikalahkan oleh kelemasan sebab ternyata hewan-hewanpun seringkali menggunakan
kelemasan apabila kekuatan pihak lawan ternyata lebih besar. Pengamatan tersebut
memberi
inspirasi
bagi
manusia
untuk
menggunakan
kelemasan
dalam mematahkan
kekuatan yang besar.
Manusia terus-menerus
menggunakan akalnya tanpa henti, dibuatnya pelbagai
alat untuk membela diri dari jarak dekat bila menghadapi pertempuran, disamping
berbagai alat
untuk
mempermudah dalam memperoleh
makanan.
Diciptakannya pisau,
linggis, dan sebagainya yang semuanya terbuat dari batu karena pada masa itu belum
dikenal logam. Perkelahian pun menjadi pekerjaan sehari-hari
Dengan adanya perkawinan, kehidupan perseorangan berubah menjadi
kehidupan berkeluarga. Terbentuknya keluarga memunculkan persoalan baru dimana
tidak jarang terjadi perkelahian diantara sesama
manusia
untuk
memperoleh
makanan
dari sumber
yang sama. Disamping
masih harus menghadapi serangan binatang buas,
manusia
juga
mulai
berseteru
dengan
sesamanya,
perkelahian
antar
manusia
jauh
lebih
rumit
daripada
pertempuran
mereka
dengan
binatang.
Fenomena
ini
|