|
4
seseorang
yang dianggap
memiliki keahlian
untuk
melakukan tugas
itu, yaitu Dr.
Matthes (Benjamin Frederik Matthes lahir pada tanggal 16 Januari 1818 di Amsterdam.)
yang pada waktu itu berumur tiga puluh tahun. Pada tanggal 20 Desember 1948 Matthes
tiba dipelabuhan Makassar dan menginjak
tanah Sulawesi dan dengan segera mulai
melaksanakan
tugasnya.
Bahasa
Makassar
dianggapnya
lebih
mudah, tetapi tidak
sepenting
bahasa
Bugis
karena
jumlah penutur bahasa Bugis
jauh
lebih
besar.
Sambil
meneliti bahasa Makassar pada waktu
itu Matthes
mulai
mengumpulkan
naskah-naskah
Bugis, antara lain naskah I La Galigo.
2.2.2 Materi
La
Galigo
adalah sebuah
karya
sastra Bugis
yang
berasal
dari
Sulawesi
Selatan. Naskah Sureq Galigo ini terdiri dari lebih kurang 6000 halaman, setiap
halaman folio mengandung sekitar 50 baris
yang jumlah suku katanya antara 10 dan 15.
Berarti seluruh cerita Galigo itu kurang lebih terdiri dari 300.000 baris panjangnya.
Sebagian manuskrip La Galigo dapat ditemui pada beberapa perpustakaan di Eropa,
terutama di Perpustakaan Koninkelijk Instituut Taal Land en Volkenskundig Leidden di
Belanda.
Terdapat juga 600 muka surat tentang epik
ini di Yayasan Kebudayaan
Sulawesi
Selatan dan Tenggara dan
jumlah
mukasurat
yang
tersimpan
di
Eropa
dan
di
yayasan ini adalah 6000 tidak termasuk simpanan oleh pribadi-pribadi.
Kisah
yang bersifat epis-mitologis
itu menceritakan riwayat
manusia pertama
dibumi dan keturunannya dengan menggunakan bahasa yang indah yang berbeda dari
bahasa bugis
sehari-hari, khususnya dalam hal
leksikal. Naskah tersebut berbentuk puisi
dan
ditulis
dalam bahasa
Bugis
kuno
bercampur
Sanksekerta
pada
sekitar
abad
ke-14,
ditulis diatas daun lontar dan kertas, sekarang lebih dikenal dengan huruf Lontaraq.
|