|
5
Sebelum menggunakan
kertas
dan
tinta,
tulisan
dibuat
dengan
mengukirkan
benda
tajam pada benda-benda dari tumbuhan, umumnya pada daun lontar. Namun demikian
kata
lontar
diserap
dalam pengertian
bahan
tertulis,
bukan
arti
harafiahnya
daun
lontar. Hal itu dapat dibuktikan bahwa kata tersebut sebenarnya
dapat
diterjemahkanmenjadi
daun
tal
(melayu),
daung
ta,
atau
raung
ta
(bugis)
atau
leko
tala (makassar).
Lagipula bahan
yang digunakan oleh orang bugis untuk menulis adalah
gebang (corypha) bukan daun lontar (palmyra) lalu belakangan digunakan kertas.
Untuk membuat manuskrip lontara bugis, bilah-bilah lontar yang hanya berisi sebaris
tulisan
dijahit
sambung
menyambung
dan
dililitkan
pada
suatu
kumparan
yang
dilengkapi
engkol penggulung. Untuk membacanya orang harus mulai dari satu ujung
gulungan
yang dililitkan pada penggulung
lain dengan
menggunakan engkol,
mirip cara
kerja
penggulung
film.
Tentu
saja
itu
hanya
berlaku
untuk
teks
yang
relatif
panjang
bukan yang terlalu panjang.
Dapat
diperkirakan
juga
bahwa
bilah-bilah
lontar
tetap
dipergunakan
dalam bentuk
bundel (seperti digunakan di Jawa dan Bali
hingga abad ke 20) dan bahwa bahan
selain
lontar
(seperti
bambu,
kulit
kayu,
dan
lapisan
dalam kulit
kayu
dan
sebagainya)
atau
mungkin juga tulang telah digunakan untuk teks yang lebih pendek
(seperti
halnya
didaerah batak). Pertukaran
melalui
lembaran
lempengan emas dalam naskah
La
galigo
boleh
jadi
berlandaskan
suatu
kenyataan
karena
lembaran
emas
dapat
dilebur
ulang,
maka
bahan
inilah
yang
bisa
digunakan
sebagai
sarana
untuk
menyimpan
suatu
informasi dengan aman.
Hampir
semua
ahli
yang
pernah
meneliti
huruf
lontaraq,
antara
lain Mills,
Noorduyn,
Fachruddin,
sepakat
bahwa
huruf
lontaraq
berasal
dari
Pallawa
yang
masuk
menyebar
|