Home Start Back Next End
  
6
ke
Nusantara
bersamaan
dengan
penyebaran agama Hindu. Melalui huruf Kawi, ia
menyebar ke Sumatera, dan dari situ orang Bugis mengadopsinya kemudian me-
localgenius-kannya
menjadi
huruf
lontaraq.
Para ahli juga menyebut bahasa yang ada
pada
naskah
La
Galigo
sebagai
bahasa Galigo.
Bahasa
tersebut
digubah
dengan
gaya
sastra yang tinggi, dengan cirinya adalah irama atau metrumnya, setiap segmen terdiri
atas empat atau lima suku kata, berbeda dengan puisi Bugis yang lain, umpamanya
dengan genre toloq ( syair kepahlawanan ) yang setiap
segmennya terdiri atas delapan
suku  kata.  Hampir  semua  unsurnya  memenuhi  standar  untuk  disebut  sebagai  karya
sastra, tetapi sebagian ilmuwan tidak berani
karena hampir sebagian besar orang Bugis
mensakralkannya.
Naskah sureq Galigo dalam masyarakat Bugis berfungsi sebagai bacaan
hiburan,  bacaan  pada  banyak  upacara  adat,  sekaligus  sebagai  buku
tuntunan  hidup.
Isinya bukan hanya hikayat kepahlawanan ( yang
lebih dipercaya sebagai
mitos daripada
sejarah ),
tetapi
juga
aturan – aturan kemasyarakatan, tata moral, budi pekerti, tuntunan
pergaulan, berkeluarga, hukum, ekonomi, perdagangan, pengobatan, dan banyak lagi.
Naskah
ini
pada
umumnya
tidak
dibaca
seorang
diri
didalam
hati,
tetapi
dinyanyikan
oleh seseorang untuk hadirin yang berkumpul.
Naskah ini tidak boleh dibaca sembarangan. Bahkan judul sureq ini sengaja
menggunakan nama Galigo, bukannya Sawérigading. Padahal Sawérigading adalah
pemeran utama. Namun, alasan tidak menggunakannya sebagai judul karena nama
tersebut tidak boleh disebut sembarangan.
Bila menyebut La Galigo berarti yang dimaksud adalah tulisan – tulisan yang
terdapat
didalam manuskrip.
Sebaliknya
bila
hanya
menyebut
Galigo
itu
berarti
yang
dimaksud  adalah  tembang-tembang  dari 
naskah  La Galigo
yang  dinyanyikan  pada
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter