Home Start Back Next End
  
41
banyak disenangi
masyarakat di
mancanegara.
Tak
pelak
muncul
rasa
khawatir
bahwa
kesenian 
tradisional  wayang 
terancam
punah. 
Bagaimana
dengan 
kegairahan
masyarakat
Bali
menonton
pertunjukan
wayang
kulit?
Menurut
budayawan
Dr
I
Nyoman
Catra,
la
menangkap
adanya
fenomena
menggembirakan
di
mana
pentas
wayang
kulit
kembali "diburu"
masyarakat
di
Bali.
Salah
satunya,
wayang
Cenk
Blonk
yang
"kemasannya"
dinilai
sangat
gaul,
tapi
tidak
keluar
dari
pakem pertunjukan
wayang
tradisi.
"Saya
melihat
masyarakat
kita
kembali
bergairah menonton wayang.
Lebih-lebih
dengan  dimasukkan  unsur-unsur 
teknologi  ke  dalam 
seni 
pertunjukan 
wayang, 
ini
sebuah
babak
awal
yang
positif
untuk
menggairahkan kembali
kesenian
ini,"
katanya,
beberapa
waktu
lalu
di
Denpasar.
Agar
sebuah
seni
pertunjukan
bisa
tetap
bertahan
dan
tidak
ditinggalkan
penonton,
menurutnya,
seniman
dituntut
senantiasa kreatif
untuk
melahirkan
karya-karya
segar.
Begitu
pula 
dengan 
kesenian 
wayang, 
kreativitas 
itu
tidak  
boleh  
bergerak  
stagnan 
sehingga 
pertunjukan 
wayang 
kulit 
itu 
tak 
pernah
menjemukan untuk
ditonton.
"Kuncinya
kembali
kepada
kreativitas.
Saya
optimistis,
kreativitas-kreativitas   baru   dari   para   seniman   akan   terus   bermunculan,   sehingga
pertunjukan 
wayang  kulit 
itu 
tidak 
akan 
pernah  ditinggalkan  masyarakat," 
tuturnya.
Kendati
ide-ide
segar
terus
bermunculan,
Catra
mengaku
optimistis seni
pertunjukan
wayang
konvensional
tidak
akan pernah
mati.
Alasannya,
kesenian
wayang
(konvensional-red)   di   Bali   juga  
melekat   dengan   prosesi  
upacara   keagamaan.
Misalnya, dijadikan sarana panglukatan bagi
generasi Bali
yang
lahir pada
wuku
Wayang
yang
dikenal
dengan
Wayang
Sapuleger.
"Ketika
wayang
sudah
akrab
dengan
teknologi
canggih,
wayang konvensional pun
tidak serta-merta
boleh
dibunuh
atau
dihilangkan,
tapi
tetap bertahan karena seni
wayang di
Bali juga
merupakan seni persembahan. Ketika kita
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter