|
23
Hearn
(2007
:
641)
mengatakan bahwa oni
merupakan sosok
roh jahat atau
jin
yang
datang
dari
dunia
lain
ke
dunia
manusia,
serta
dapat
membawa
bencana
atau
berkah.
Diluar dari kekuatannya yang
luar biasa dan menakutkan, oni dianggap sebagai
makhluk
yang
bertentangan, memiliki
sifat
baik
dan
jahat,
dan
sering
dijadikan
objek
pemujaan
dan
pengusiran.
Karakter
huruf
oni
(?)
dalam
bahasa
Cina
dibaca
gui
dan
ditujukan
pada
jiwa
dari
seorang
yang
telah
meninggal, sementara
di
Jepang
dibaca
sebagai
oni
(setan
atau
jin),
mono
(roh
yang
mendiami suatu
tempat),
atau
kami.
Berdasarkan
kepercayaan tentang karakter oni,
konsep
oni
dapat
dibagi
menjadi dua
jenis
utama: (1)
roh
jahat
atau
kami
yang
bersifat
jahat,
(2)
oni
sebagai
kami
yang
bersifat
baik.
Jenis
yang
pertama
adalah
oni
yang
membawa
melapetaka, kematian,
dan
kelaparan,
yang
dahulu
kala
dianggap
sebagai
makhluk
yang
tidak
kelihatan. Jenis
yang
kedua
dapat
dilihat
pada
masa
sekarang
ini
dari
upacara dan
festival pada
tahun
baru,
misalnya;
festival
pengunjungan kami
yang
disebut
dengan
Namahage
dimana
orang
memakai
topeng oni, tarian sakaki-oni di perfektur Aichi untuk mengusir roh jahat.
2.4.4 Unsur-Unsur Penting Upacara Dalam Shinto
Dalam
semua
upacara
yang
dilaksanakan oleh
kuil,
kecuali
kegiatan
sederhana
pemujaan
yang
dilakukan
oleh
perseorangan,
melibatkan
empat
elemen
di
dalamnya:
penyucian
(harai),
persembahan
(shinsen),
doa
(norito),
dan
pesta
simbolik
(naorai).
Jika
diamati,
sederhana
atau
rumitnya
keempat
hal
ini
tergantung pada
acara
yang
dilaksanakan. Hal
ini
merupakan
ciri-ciri
khusus
Shinto
bahwa
pemujaan
kami
tidak
hanya
dari
kedalaman
hati
seseorang, tetapi
dalam
sebuah
tindakan
nyata
dari
ritual
keagamaan (Ono, 1998 : 51).
|