|
10
hari
tertentu
dimana
masyarakat
yang
hadir
untuk
sembahyang berlimpah
maka
harganya dapat mencapai Rp. 2 juta perekornya.
Selain
itu,
pukat
para
nelayan
di laut
dalam,
juga
mampu
menyeret
penyu
dan
menyebabkan
satwa
yang
bernafas
dengan
paru-paru
ini
kehabisan
oksigen
dan
mati
lemas.
Sebagai
reptilia
penyu
tidak
bertahan
terus
di dalam
kedalaman
air.
Mereka
memerlukan waktu untuk naik kepermukaan dan menghirup oksigen. Terperangkap
pukat
menyebabkan
kematian.
Faktor
lain adalah
konsumsi
masyarakat
terhadap
telur
penyu.
Banyak
masyarakat pesisir
yang
mengkonsumsi
dan
memanen langsung
telur
penyu
untuk
dijual.
Di
Kabupaten
Berau,
Kalimantan
Timur,
pemungutan
ratusan
ribu
telur
penyu
dilakukandengan
cara
lelang
untuk
mendapatkan
tambahan
Pendapatan
Asli Daerah (PAD).
Berkurangnya populasi penyu hijau di
Cilacap bahkan sudah terjadi sejak 1976,
tatkala Pantai Teluk Penyu disulap menjadi kawasan wisata. Sejak itu penyu hijau
seperti
enggan
bertelur
di
sana,
meski
belakangan
diketahui
pindah
ke
Ranca
Babakan:
sebuah pantai
di
selatan Pulau Nusakambangan. Gejala serupa
juga
mulai terjadi
di
KKS (Cipatujah). Menurut Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jabar,
jumlah
penyu
hijau
yang
mendarat
(untuk
bertelur)
tinggal
54
ekor.
Padahal
di
tahun
2003 masih tercatat 84 ekor. Dari 54 penyu yang mendarat, hanya 49 ekor yang
bertelur.
Jumlah
telur
tercatat
3.318
butir,
di
mana
yang
menetas
hanya
1.523
butir.
Dari jumlah
tukik yang menetas,
175
ekor diantaranya
mati. Bahkan
kasus pembantaian
seperti
di
Bali
juga
terjadi
di
pantai
selatan
Jawa.
Menurut
LSM
Profauna,
setiap
tahun
terdapat
sekitar
1.000
penyu
hijau
di pantai
selatan
Jawa
yang
dibantai,
khususnya
di
Cilacap.
|