Home Start Back Next End
  
44
mengimplikasikan
bahwa motif
tersebut lebih diutamakan daripada motif umum
dan
sekunder (Luthans, 2006, p270).
Ada dua kriteria yang harus dipenuhi agar motif
dapat dimasukkan dalam
klasifikasi
primer.
Motif
harus
tidak
dipelajari,
dan motif
harus
didasarkan
secara
fisiologis.
Dengan
definisi
tersebut,
motif primer
yang
paling
dikenal secara umum
adalah
lapar,
haus,
tidur,
menghindari sakit,
seks,
dna
perhatian
maternal/ibu
(Luthans, 2006, p270).
2) 
Motif umum
Klasifikasi motif umum muncul dikarenakan adanya sejumlah motif dalam
area antara
klasifikasi primer dan sekunder. Agar termasuk dalam kategori umum,
sebuah motif haruslah tidak dipelajari, tetapi tidak didasarkan pada fisiologis.
Sementara
kebutuhan primer
mengurangi ketegangan
atau stimulasi,
kebutuhan
umum justru diperlukan untuk mempengaruhi seseorang untuk meningkatkan jumlah
stimulasi.
Dengan
demikian,
kebutuhan tersebut
kadang-kadang
disebut
“motif
stimulus” (Rathus, 1990, p312). Meskipun tidak semua psikolog sependapat, namum
motif
keingintahuan, manipulasi,
aktivitas,
dan afeksi sepertinya paling
memenuhi
kriteria untuk klasifikasi tersebut (Luthans, 2006, p271).
3) 
Motif sekunder
Pada studi manusia dalam organisasi, sekalipun dorongan
umum tampaknya
relatif
lebih penting
daripada
dorongan primer,
namun
dorongan
sekunder adalah
yang
paling
penting.
Saat
masyarakat berkembang
secara
ekonomi
menjadi
lebih
kompleks,
dorongan
primer,
dan
dorongan umum
kurang
penting,
membuka
jalan
bagi
dorongan
sekunder
yang
dipelajari untuk
memotivasi
perilaku
(Luthans,
2006,
p272).
Sebuah motif harus dapat dipelajari agar dapat dimasukkan dalam klasifikasi
sekunder. Berbagai motif manusia yang paling memenuhi kriteria tersebut. Beberapa
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter