Home Start Back Next End
  
14
Penggunaan
e-learning
menuntut
budaya
self-learning,
dimana
seseorang
memotivasi
diri
sendiri
agar
mau
belajar.
Sebaliknya,
pada sebagian
besar
budaya
pelatihan
di
Indonesia,
motivasi
belajar
lebih
banyak
tergantung
pada pengajar. Dalam pelatihan di ruang kelas, 60% energi dari pengajar,
sedangkan pelajar hanya mendengar dan mencatat.
2.
Investasi
Walaupun
e-learning
menghemat
banyak
biaya, tetapi suatu organisasi harus
mengeluarkan investasi awal cukup besar untuk mulai mengimplementasikan
e-learning.
Investasi
dapat
berupa
biaya
desain
dan
pembuatan
program
Learning
Management
System (LMS),
paket
pelajaran
dan
biaya-biaya
lain,
seperti promosi dan change management system. Apabila infrastruktur yang
dimiliki  belum  memadai,  organisasi  harus  mengeluarkan  sejumlah 
dana
untuk membeli komputer, jaringan, server, dan lain sebagainya.
3.
Teknologi
Karena teknologi
yang
digunakan
beragam,
ada
kemungkinan
teknologi
tersebut
tidak
sejalan dengan
yang sudah
ada
dan terjadi
konflik
teknologi
sehingga  e-learning
tidak  berjalan  baik.  Oleh  karena  itu,  kompatibilitas
teknologi
yang
digunakan harus
diteliti sebelum
memutuskan
menggunakan
suatu paket e-learning.
4.
Infrastruktur
Internet
belum
menjangkau
semua
kota
di
Indonesia.
Layanan broadband
baru ada di kota-kota besar. Akibatnya, belum semua orang atau wilayah
belum dapat merasakan e-learning dengan internet.
5.
Materi
Walaupun  e-learning
menawarkan  berbagai  fungsi,  ada  beberapa  materi
yang
tidak
dapat
diajarkan
melalui
e-learning. Pelatihan
yang
memerlukan
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter