Home Start Back Next End
  
22
internal,
fak tor-fak tor
yang
dianggap  mempuny ai
pengaruh
besar  terhadap
k nerja organisasional
inerja organisasional
harus
diberi
bobot
tertinggi.
Jumlah
dari
semua bobot
harus sama dengan 1,0.
3.  
Berik an
peringk at
1
sampai dengan
4
pada
setiap
fak tor
untuk
menunjukan
apak an
fak tor
tersebut
sangat lemah (peringk at =
1), lemah
(peringk at =
2),
kuat
(peringk at
=
3),
atau  sangat
kuat
(peringk at
=
4).
Ingatlah
bahwa
peringk at
3
atau
4
hanya
untuk k ekuatan
sedangk an
1
dan
2
hany a
untuk
k
elemahan. 
Peringk at  y ang 
diberik an 
berdasarkan 
k
eadaan 
perusahaan,
sedangk an bobot dalam langk ah 2 berdasarkan keadaan industri.
4.  
Kalik an bobot setiap fak tor dengan peringk atnya untuk
menentuk an skor bobot
bagi amsing-masing v ariabel.
5.   Jumlahkan
skor bobot masing-masing v ariabel untuk
memperoleh
skor
bobot
total orgabisasi.
Terlepas
dari beberapa bany ak
fak tor y ang
dimasuk an
k
e
dalam Matrik s
Ev aluasi Internal, skor bobot total berk isar
antara 1,0 sebagai titik rendah dan 4,0
sebagai
titik
tertinggi,
dengan
skor
rata-rata
2,5.
Skor
bobot
total
dibawah
2,5
mencirik an
organisasi
y
ang
lemah
secara
internal,
sedangk an
skor
y
ang
secara
signifik an
berada di atas 2,5 mengindik asik an posisi internal kuat. Seperti matrik s
EF E, matrik s IFE harus memasuk an antara 10 sampai 20 fak or. Jumlah fak tor tidak
tor. Jumlah fak tor tidak
berpengaruh  terhadap  rentang  jumlah
nilai
y
ang  dibobot
k
arena
bobot
selalu
berjumlah 1,0.
2.7.2 T ahap Pencocok an
Menurut 
Dav id 
(2009, 
p325),  strategi 
sering 
k
ali  didefinisik an 
sebagai
pencocok an  y ang 
dibuat  suatu 
organisasi  antara 
sumberday a  dan  k etrampilan
internalny a
serta
peluang
dan
resiko
y
ang
diciptak an
oleh
fak or-fak tor
tor-fak tor
ek sternal.
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter