|
87
500
(n).
nilai
b
sama
dengan
2000/500
atau
sama
dengan
4.
Sampel
pertama
ditentukan secara
random,
kemudian sampel
berikutnya
berturut-turut setiap
nomor dengan interval 4.
c.
Bertingkat
(stratified).
Merupakan
teknik
pengambilan
sampel
dengan
cara
mengelompokan
populasi
dengan
kriteria tertentu
dengan
beberapa
strata
(Kuncoro,
2003,
p115)
dengan asumsi
anggota
populasi
dianggap
heterogen
(Riduwan
dan
Kuncoro,
2008,
p41).
Sampel strata ini
dibagi
menjadi
dua,
yaitu
proportionate stratified sampling dan dispropotionate stratified sampling.
Proportionate
stratified
sampling.
Setiap
strata
ditampilkan
dengan
tepat
sehingga sampel yang diambil proposional (Cooper dan Emory, 1996,
p238).
Banyaknya
sampel akan
diproposionalkan
dengan
jumlah
elemen
setiap unit pemilihan sampel (Kuncoro, 2003, p115). Misalnya jumlah
pegawai
yang
lulus
S1=45,
S2=30, STM=800,
ST=
900,
SMEA=400,
SD=300.
Jumlah sampel yang
diambil harus
meliputi
strata
pendidikan
tersebut (Sugiyono, 2004, p75).
Dispropotionate
stratified
sampling. Teknik
ini
digunakan
apabila
proporsi
populasi
berstrata kurang proposional
dengan elemen setiap unit
(Sugiyono,
2004,
p76;
Kuncoro,
2003, p116).
Misalnya
pegawai
dari
PT
tertentu
mempunyai: 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2,90 orang S1,
800
orang
SMU,
700
orang
SMP,
maka
tiga
orang
lulusan
S3,
dan
empat
orang lulusan S2, itu diambil semua sebagai sampel (Sugiyono, 2004, p75).
d. Area
random
(cluster).
Merupakan
teknik
sampling
yang
dilakukan
dengan
cara
mengambil
wakil
dari
setiap
wilayah
geografis
yang
ada
(Riduwan
dan
kuncoro,
2008,
p43).
Sampel
cluster
digunakan
Karena
adanya
kebutuhan
efisiensi
|