|
15
berpasangan dengan tempe bacem sehingga orang sering menyebut kuliner ini dengan nama
jadah tempe.
Di Kaliurang, banyak warung yang menyediakan kuliner
jadah tempe. Harga untuk
seporsi jadah tempe di bandrol dengan harga 10.000 rupiah yang berisi 10 buah jadah dan 10
buah tempe bacem.
Pertama kali, kuliner jadah tempe ini dibuat oleh Mbah Sastro
Dinomo yang dikenal
dengan sebutan Mbah carik, pada tahun 1950. Sehingga, di Kaliurang, makanan ini dikenal
dengan nama Jadah Tempe Mbah Carik.
Pada awalnya di tahun 1950-an, jadah bukanlah makanan yang populer, bahkan hampir
tidak dikenal. Keadaan tiba-tiba berubah sejak rombongan dari Kraton Ngayogyakarta
Hadiningrat mengadakan kunjungan ke Kaliurang yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku
Buwana IX (1912-1988). Dalam kunjungan itu, Sri Sultan Hamengku Buwana IX tertarik
setelah melihat lapak dagangan yang menjual jajanan jadah dan tempe yang ada di sekitar
Telogo Putri Kaliurang. Ia tak sungkan-sungkan mampir ke warung Mbah Sastro Dinomo
dan mencicipi makanan jadah dan tempe.
Sang Raja menjadi ketagihan dengan sensasi rasa unik yang tercipta berkat harmonisasi
jadah dan tempe. Sekembalinya ke Kraton Yogyakarta, Sri Sultan
Hamengku Buwana IX
mengutus salah seorang
abdi dalemnya untuk kembali ke Kaliurang dengan tujuan untuk
menemui penjual jadah tempe tersebut. Sri Sultan Hamengku Buwana IX juga berkenan
memberikan nama untuk makanan yang unik itu.
Supaya mudah diingat, Sang Raja
menetapkan makanan itu dengan nama jadah tempe, yang artinya penggabungan makanan
jadah dan tempe.
Sebelum itu istilah jadah tempe belum dikenal. Orang hanya mengetahui bahwa
makanan itu terdiri dari jadah ketan dan tempe bacem. Setelah mengetahui bahwa Sasto
Dinomo adalah seorang carik, maka abdi dalem utusan Sri Sultan Hamengku Buwana IX itu
mengusulkan agar warung Sastro Dinomo diberi nama warung jadah tempe Mbah Carik.
Sejak saat itulah nama Mbah Carik dipakai Sastro Dinomo sebagai nama warungnya hingga
saat ini. Seiring dengan semakin populernya makanan ini, banyak usaha jadah tempe yang
bermunculan. Namun, kejayaan Mbah Carik sebagai raja-nya jadah tempe tidak
tergoyahkan.
Sekarang, warung tersebut diteruskan oleh salah satu cucu Sastro Dinomo. Meskipun
demikian, racikan makanan ini tetap sama. Bahan bakar untuk mengolah jadah tempe ini
tetap mengunakan kayu bakar, sehingga mutu dan rasa jadah tempe ini tetap sama dari
|