Start Back Next End
  
83
sandiwara dari Perancis, setelah itu secara bergiliran ditampilkan
rombongan kesenian setempat ditambah rombongan yang didatangkan
dari Perancis dan Belanda.
3) Masa Jepang
Masa yang paling menyedihkan dalam perjalanan gedung kesenian
ini adalah ketika masa pendudukan Jepang. Tidak hanya karena tempat
ini telah "dipaksa" harus menyesuaikan diri dengan kepentingan mereka
sebagai penguasa Asia, gedung ini untuk beberapa lama dipakai sebagi
markas tentara sehingga banyak hiasan dan perlengkapan gedung yang
rusak atau hilang. Baru setelah dibentuknya Badan Urusan Kebudayaan
(Keimin Bunka Shidosho) oleh Pemerintah Pendudukan Jepang pada
bulan April 1943, bangunan ini digunakan kembali sebagai tempat
pertunjukan dengan nama Siritsu Gekizyoo.
Menjelang kemerdekaan Indonesia, Gedung Kesenian juga
dijadikan ajang persiapan para seniman muda progresif untuk
menghadapi tugas-tugas untuk menyiapkan kemerdekaan. Ketika bala
tentara Sekutu mendarat di Jakarta setelah Perang Dunia Kedua usai,
mereka membentuk perkumpulan yang mereka beri nama "Seniman
Merdeka". Kelompok ini beranggotakan Usmar Ismail, Cornel
Simanjuntak, Soerjo Soemanto, D. Djajakususma, Soedjono S., Basuki
Resobowo, Rosihan Anwar, Sarifin, Suhaimi, dan
satu-satunya gadis
yakni Malidar Malik.
Mereka berkeliing menggunakan sebuah truk yang berhasil mereka
bawa dari Pusat Kebudayaan Jepang (Keimin Bunka Shidosho). Truk
tersebut digunakan untuk mengadakan pertunjukan sandiwara keliling
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter