Start Back Next End
  
Namun masalah paling besar terhadap sebagian besar aset yang tidak berwujud adalah
bahwa mereka sulit untuk diidentifikasi serta manfaat masa depan yang diharapkan sering jauh
lebih tidak pasti daripada aset berwujud. Dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dan berbagai
kriteria pengakuan aset, organisasi penetapan standar dan regulator lainnya telah enggan untuk
mengakui beberapa sumber daya tidak berwujud sebagai aset. Meski begitu, belakangan ini
organisasi penetapan standar, seperti IASB dalam IAS 38, lebih bersedia untuk mengubah fokus
mereka dari kehati-hatian menuju pengakuan (recognition).
2.4.2.1 Pengakuan Pemain Sepakbola sebagai Aktiva Tak berwujud
Pertanyaan mengenai apakah pemain sepakbola dapat dikategorikan sebagai aset dan
dilaporkan di neraca merupakan sebuah perdebatan. Agar dapat dilaporkan sebagai aset, maka
pemain sepakbola harus memenuhi kriteria pengakuan sebagai aset. Menurut FASB sebagaimana
disebutkan dalam SFAC no 6 tentang Elements of Financial Statements mendefinisikan aktiva
sebagai kemungkinan manfaat ekonomi masa depan yang diperoleh atau dikendalikan oleh
entitas tertentu sebagai hasil dari transaksi atau peristiwa masa lalu. Definisi ini berlaku bagi
aktiva berwujud dan aktiva tidak berwujud, hanya aktiva berwujud memiliki bentuk fisik
sedangkan aktiva tidak berwujud tidak memiliki wujud fisik. Kieso, Weygandt, dan Warfield
(2008) menyatakan bahwa intangible asset memiliki dua karakteristik, yaitu:
1.
Tidak memiliki eksistensi secara fisik karenanya nilai dari aktiva tersebut 
ditunjukkan dengan hak yang dijamin bagi perusahaan untuk menggunakan aktiva
tersebut.
2.
Bukan instrumen keuangan.
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter