|
23
diterima
dan sikap merek. Mereka mengajukan protokol untuk mengukur
citra merek berdasarkan pada kategori produk. (Martinez, 2008,pp.2)
Menurut Davis cara untuk mengukur brand image
dilihat dari
penjualan merek produk dan peningkatan yang terjadi. (Martinez, 2008, pp.2)
Jika masyarakat menilai produk tersebut berkualitas tinggi maka citra dari
brand tersebut pun akan mengalami peningkatan dan semakin dikenal publik,
khususnya dalam perkenalan dan penjualan produk baru.
Citra merek menurut Keller adalah persepsi konsumen tentang
suatu
merek sebagai refleksi dari asosiasi merek yang ada pada pikiran konsumen.
Sedangkan Aaker menyatakan bahwa citra merek
merupakan kumpulan
asosiasi yang diorganisir menjadi suatu yang berarti, juga merupakan asosiasi
yang muncul dalam benak konsumen ketika mengingat suatu merek tertentu.
Asosiasi tersebut secara sederhana dapat muncul dalam bentuk pemikiran dan
citra tertentu yang dikaitkan dengan suatu merek. (Roslina, 2010, pp.5)
Menurut penulis cita merek merupakan suatu ciri yang khas atau kuat
terhadap suatu organisasi maupun perusahaan tertentu dan seharusnya bisa
memberikan perspektif citra yang positif terhadap organisasi tersebut.
Terdapat sebelas jenis asosiasi menurut Aaker
yaitu: (Roslina, 2010:
pp.6)
1. Atribut produk (product attribute). Mengembangkan asosiasi semacam ini
efektif karena
jika atribut tersebut bermakna, asosiasi bisa secara langsung
diterjemahkan dalam alasan untuk membeli atau tidak membeli suatu merek.
2. Atribut tak berwujud (intangibles). Faktor-faktor tak berwujud merupakan
asosiasi yang lebih efektif untuk dikembangkan daripada atribut-atribut
|