Start Back Next End
  
membahas beberapa jenis kerupuk. Untuk masalah elaborasi konten,
penulis pun diminta untuk membaca salah satu karya beliau yaitu Rijsttafel
: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870 –
1942
dimana
terdapat bahasan yang cukup
menarik akan keterlibatan Belanda dalam
membangun budaya kuliner di Indonesia. 
2.1.5 Data Observasi
   Data observasi didapat dengan melakukan pengamatan dan walk-in
interview
kepada pedagang / supplier kerupuk, pecinta kuliner Indonesia, orang
tua, dan mengamati produk secara langsung. Kegiatan ini dilakukan untuk
mendapatkan informasi tambahan mengenai kerupuk. 
   2.1.5.1 Hasil Observasi
   Berikut hasil observasi yang berhasil penulis dapatkan :
          a)
Kerupuk tidak memiliki sebutan nama yang
mutlak, namun
memiliki nama yang
bermacam-macam. Hal ini disebabkan
beberapa daerah bisa saja memproduksi kerupuk yang memiliki
wujud sama namun rasa atau bahan berbeda. Sehingga, bukan tidak
mungkin suatu jenis kerupuk memiliki nama sebutan lain seperti
nama sebutan khas daerah atau nama yang disepakati banyak orang.
Contoh : Kerupuk Kulit. Dikenal juga sebagai kerupuk Rambak atau
Jangek dalam bahasa Minang.
   b)
Seperti halnya proses pembuatan kuliner lain, kerupuk pun memiliki
step-to-step
proses pembuatan yang menarik. Proses penjemuran
merupakan bagian yang penting sebagaimana teknik menggoreng
karena hal tersebut mempengaruhi kualitas kerupuk yang dibuat.
c)
Kerupuk ternyata tidak hanya dijadikan sebagai makanan
pendamping saja namun juga dapat dikonsumsi terpisah sebagai
camilan. Bahkan, selain didistribusikan dengan cara
konvensional
(dijual langsung ke pasar atau dijual-titipkan di warung makan),
penjualan kerupuk juga telah mengadopsi cara transaksi jual beli
melalui jasa online lewat layanan blog atau forum jual beli.
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter