Start Back Next End
  
tangguh.Soedirman juga sangat menyenangi baris-berbaris. Dari sini tampak jelas adanya bakat-
bakat kepemimpinan pada diri Soedirman.
(Guru Bangsa Sebuah Biografi Jenderal Sudirman (Sardiman, 2008))
Kepemimpinan Soedirman
Pada saat pertempuran di Ambarawa pada akhir November 1945, Soedirman masih
menjabat sebagai Komandan Divisi V, melakukan koordinasi dengan Kolonel Isdiman dan ia
memberikan motivasi serta semangat tempur bagi para anggota TKR dan pejuang lainnya yang
kurang lebih seperti berikut “Sekutu sedang melancarkan devide strategi untuk Jakarta, Surabaya
dengan mempergunakan poros Semarang-Yogyakarta sebagai pembelahan untuk mengangkut
tahanan dan tawanan perang. Tetapi tujuan sebenarnya adalah devide strategi. 
Karenanya kita harus mencegah, menggagalkan rencana mereka itu dengan memukul
mundur Sekutu dari Magelang, Banyubiru, dan Ambarawa”.Pada saat itu terjadi pertempuran
sengit di Ambarawa, karena terdesak Sekutu membawa bala bantuan pada tanggal 26
November1945 yaitu serangan udara dan menewaskan Kolonel Isdiman.Kolonel Soedirman pun
langsung turun dan mengambil alih komando pasukan, para pejuang pun menjadi bersemangat
dan berkobar-kobar. Gerakan penyusupan dan pengepungan terhadap tentara Sekutu semakin
rapih, hari Rabu, tanggal, 5 Desember 1945, Benteng Banyubiru yang telah mendapat tekanan
dari pejuan mulai ditinggalkan oleh Sekutu. Hari Minggu, tanggal 9 Desember 1945 Lapangan
Kalibanteng di Semarang juga mendapat serangan dari pihak pejuang. Hal ini dimaksudkan
untuk menutupi jalur bantuan Sekutu dari udara.
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter