Start Back Next End
  
Soedirman mengatur siasat yaitu serangan dadakan dengan taktik Supit Urang, serangan
itu dilakukan pada tanggal 12 Desember 1945 dan strategi itu berjalan sukses. Tentara Sekutu
pun mundur ke Benteng Willem, tanggal 15 Desember 1945 Benteng Willem berhasil dikepung
dan Sekutu pun
mundur meninggalkan kota Ambarawa menuju Semarang. Dengan demikian
Soedirman berhasil dalam memimpin pertempuran di Ambarawa dengan taktik dan strategi yang
cukup efektif, kemenangan itu disambut sukacita oleh para pejuang Indonesia.
Namun cara Soedirman
menyambut kemenangan ini cukup berbeda karena iya langsung
mengambil air wudhu meskipun masih memakai seragam perang,ia segera bersimpuh
menjalankan shalat dan sujud syukur. Ia berdoa yang maksudnya kurang lebih seperti ini “Ya
Allah ya Tuhan, Maha Besar dan Maha Kuasa Engkau. Engkaulah sumber kekuatan dan
kemenangan. Ampunilah hamba-Mu yang lemah dan dhaif ini dan berilah kami kekuatan.”
Demikianlah gaya kepemimpinan Soedirman, sebagai komandan ia tidak sombong menyambut
kemenangannya.Ia tidak kufur nikmat, ia selalu mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan dan
tidak lupa memuji kebesaran dan kekuatan-Nya.
Seharusnya pada tanggal 12 November 1945 Soedirman telah memenangkan pemilihan
calon Panglima TKR namun akibat situasi keamanan Negara Indonesia masih dalam keadaan
mantap karena kedatangan tentara Sekutu yang diboncengi NICA yang ingin merebut Indonesia
kembali maka pelantikan Soedirman di tunda. Dan baru dilaksanakan pada tanggal 18 desember
1945. Sebelum hari “H” pelantikan, para petinggi Negara yaitu Soekarno, Moh.Hatta, Sutan
Syahrir dan beberapa anggota yang lain masih ragu tentang pengangkatan Soedirman menjadi
Panglima Besar.
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter