|
1. pe nyeba ran dan pewarisannya dilakukan secara lisan, yaitu disebarkan dari mulut
ke mulut, melalui kata-kata dan dari generasi ke generasi berikutnya.
2. disebarkan diantara kolektif tertentu dalam waktu yang c ukup lama
3. ada dalam versi yang berbeda-beda. Hal ini diakibatka n oleh cara penyebaran dari
mulut ke mulut ( lisan)
4. be rsifat anonim, yaitu nama penciptanya sudah tidak diketahui lagi
5. biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola se perti kata klise, kata-kata
pe mbukaan dan penutup baku
6. mempunyai kegunaan (function) dalam kehidupan bersama suatu kolektif, sebagai
alat pendidik, pelipur lara, protes sosia l dan proyeksi keinginan yang terpendam.
7. be rsifat pralogis, yaitu memiliki logika tersendiri yang tidak sesua i de ngan logika
umum
8. menja di milik bersama dari kolektif tertentu. Hal ini disebabkan penciptanya yang
pe rta ma sudah tidak diketahui lagi, sehingga setiap anggota kolektif merasa
memilikinya.
9. be rsifat polos da n lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, terlalu spontan.
ha l ini dapat dime ngerti bahwa dongeng juga me rupakan proyeksi em
manusia
ya ng paling jujur manifestasinya.
2.1.7 Fungsi Dongeng
Dalam thesis Zunairoh Nihayatu pula dijelaskan dongeng sebagai salah satu
dari sastra anak, be rfungsi untuk memberikan hiburan, juga sebagai sarana untuk
mewariska n nilai-nila i yang diyakini kebenarannya oleh masyaraka t pada waktu itu.
Donge ng dipandang sebagai sarana untuk mewariskan nilai-nilai, dan untuk
masyarakat lama itu dapat dipa ndang sebagai satu-satunya cara. Sesuai dengan
keberadaan misi tersebut, dongeng mengandung ajaran moral. Dongeng sering
mengisahkan pende ritaan tokoh, namun karena kejujura n dan ketahanujiannya tokoh
tersebut me ndapat imbalan yang menyenangkan. Sebaliknya tokoh jahat pasti
mendapat hukuman. (Nurgiya ntoro, 2005:200).
Hal senada juga dikemukakan oleh (Danandjaja, 2007:83) bahwa dongeng
dice rita kan teruta ma untuk hiburan, walaupun banyak juga yang melukiskan
kebenaran, berisikan pelajaran (moral), atau bahkan sindiran. Sama halnya yang
diungkapkan oleh Carvalho-Neto (dalam Danandjaja, 2007:4) bahwa dongeng
|