|
28
II.4.9.5 Kualitas Audit dan Manajemen Laba
Nuraini
dan
Zain
dalam Jurnal
Maksi
(2007,
p22)
menyatakan
bahwa
kualitas
audit dapat dilihat dalam dua dimensi:
1.
Auditor harus mampu mendeteksi salah saji materi
Kemampuan
untuk
mendeteksi
salah
saji materi sangat dipengaruhi oleh
kemampuan teknologi dari auditor, prosedur audit, dan jumlah sampling
yang
digunakan.
2.
Salah saji tersebut harus dilaporkan
Kemampuan untuk melaporkan salah saji material secara tepat tergantung pada
sikap
independensi auditor,
jika auditor berada pada
tekanan personal, emosional,
dan keuangan maka auditor akan kehilangan independensi.
Lebih
lanjut
menurut
Nuraini, et al (2007, p22) audit yang berkualitas akan
mampu
mengurangi
faktor ketidakpastian yang berkaitan
dengan
laporan
keuangan
yang disajikan oleh pihak
manajemen. Karena itu, wajar jika kemudian kualitas audit
menjadi topik yang selalu memperoleh perhatian mendalam dari profesi akuntan,
pemerintah, masyarakat serta investor.
Bukti menunjukkan beberapa
indikasi
bahwa
kualitas audit telah
mengalami penurunan pada tahun 1990an berkaitan dengan kasus
Enron
dan
Worldcom.
Jatuhnya
KAP
Arthur Andersen merupakan saat yang tepat
untuk mempertanyakan kualitas audit yang diberikan oleh KAP big International.
Kritik tersebut
telah
melahirkan perubahan
terhadap
undang-undang
di
Amerika
Serikat dengan berlakunya Sarbanes-Oxley Act pada bulan Juni tahun 2002 diikuti
dengan
KMK
No.423/KMK-06/2002
di
Indonesia. Undang-undang tersebut
diantaranya
mengatur
tentang
rotasi
wajib
bagi
auditor
serta
KAP
tidak
|