|
81
berpengaruh pada
perlakuan
mereka
terhadap
Emily.
Hal lain
yang
turut
meningkatkan
status sosialnya
adalah kekayaan keluarganya.
Bertolak
dari
uraian
di
atas,
terlihat
bahwa
dalam
masyarakat
demokratis, status
sosial
seorang
'pseudo-aristocrat' ditentukan
oleh
prestasi
dari
leluhurnya
bukan
dari
kebangsawanannya.
Hal
inilah
yang
membedakan
aristokrasi
di
masyarakat
demokratis
dan
monarkis.
Walaupun
begitu
pada
dasamya
proses
'pengarisokrasian'
itu
sama
yaitu
melalui keturunan
atau kelahiran.
Pada
akhirnya,
menjalani
kehidupan
sebagai
seorang
'pseudo-aristocrat'
berpotensi
besar
menimbulkan
dampak
buruk
yang
tak diinginkan
baik
terhadap
Emily
sendiri
maupun
pada masyarakat.
Walaupun
begitu,
hal ini tidak selalu
tetjadi
demikian.
Kegagalan
atau
pun kaberhasilan
seorang
'pseudo-aristocrat' dalam
kepemimpinan
bergantung pada
oknum
itu
sendiri.
Lebih
lanjut,
posisinya
sebagai
seorang
'pseudo
aristocrat'
yang
juga
membawanya
sebagai
seorang
'penguasa'
didukung
oleh
masyarakat
yang masih
bersifat
tradisional dengan pola
pikir yang
masih
sederhana.
Mereka
bermukim
di
wilayah
yang belum
banyak
terdapat
pembangunan
sehingga
interaksi
dengan
dunia luar pun sangatlah
terbatas.
Singkat kata,
kehadiran
dan kekuasaan seorang
'pseudo-aristocrat'
dalam
masyarkat
yang demokratis tampaknya tak terelakkan karena
ia
terlahir dengan
sendirinya
dan
seberapa
kuat
fenomena
ini
bertahan
tergantung
dari
keadaan
masyrakat
di
mana
aristokrasi
itu
muncul. Selain
itu,
seperti
yang
telah dikemukakan
oleh
Polybius,
aristokrasi,
khususnya
'pseudo-aristocracy' sangat
berpotensi
untuk
berubah
kearah
oligarkhi.
Namun
begitu,
kemunculan
aristokrasi
tidak
semata-mata
mengikuti
alur
lingkaran
pemerintahan
seperti
yang dikatakan
oleh Polybius.
|